Senin, 06 Juli 2015

Antara Maksiat dan Musibah


Assalamu'alaikum...
Salah satu yang membedakan cara pandang seseorang mukmin dengan yang lainnya, bahwa cara pandang seorang mukmin akan selalu di kaitkan dengan keimanan-nya kepada Allah Subahana Wa Ta'ala dan Hari Akhir. Bukan semata karena melihat hukum sebab-akibat duniawi yang nampak. Begitu pula terjadinya sebuah musibah. Bukan murni terjadi sebab alam belaka, tapi dosa manusia juga sangat berpengaruh terhadap terjadinya musibah.


Allah Subahana Wa Ta'ala
berfirman :
Dan apa saja musibah yang menimpah kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan  Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. asy-syura: 30)

   Ali bin abi thalib radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan,
"Tidaklah musibah itu turun melainkan karena dosa. Karenanya, tidaklah bisa musibah itu hilang malainkan juga dengan taubat." (Al-Jawabul Kafi,hal. 87)

Ibnu Umar berkata, "Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassallam pernah mendatangi kami seraya berkata, "Wahai kaum Muhajirin! Ada lima hal yang jika kalian diuji dengannya (namun saya berharap semoga kalian tidak menemuinya). Tidaklah sebuah perbuatan keji nampak di sebuah kaum sehingga meraka melakukannya secara terang-terangan melainkan akan muncul wabah penyakit tha'un yang belum pernah ada sebelumnya. Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan akan tertimpa penceklik dan kesusahan hidup serta zalimnya penguasa. Dan tidaklah mereka menolak membayar zakat, malainkan hujan tidak akan turun. Seandainya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya tidak akan pernah turun hujan. Dan tidak mereka mengingkari perjanjian Allah dan Rasul-Nya melainkan Allah akan jadikan mereka dikuasai oleh musuh sehingga berhasil mengambil sebagian milik mereka, serta tidaklah para pemimpin meninggalkan berhukum dengan kitab Allah serta pilih-pilih apa apa yang di turunkan oleh-Nya, melainkan Allah akan jadikan kehancuran mereka (seban pertikaian) antara mereka sendiri." (HR.Ibnu Majah,al-Bazzar dan al-Baihaqi,sebagaimana dalam ash-Shahihah:106)

  Hal ini pun banyak disampaikan oleh para ulama. Mereka tegaskan bahwa hubungan antara musibah dengan maksiat seorang hamba sangatlah kuat.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berkata, "Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilanhkan nikmat, dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga di sebabkan oleh dosa." (Al-Jawabul Kafi, hal 7)

  Ibnu rajab al-Hanbali pun mengatakan hal senada, "Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa, karena semua musibah itu disebabkan karena dosa." (Latha'if al-Ma'arif,hal 75)

  Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap hamba merenungkan hal ini. Ketahuilah, bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negri ini, itu semua di sebabkan dosa dan maksiat yang telah kita perbuat. Betapa banyak kesyirikan merajalela di mana-mana, dengan bentuk tradisi ngalap berkah, memajang jimat untuk memperlancar bisnis dan karir dan sebagainya. Kaum muslimin juga ternyata tidak bisa lepas dari tradisi yang berbau agama, namun sebenarnya tidak ada tuntunannya sama sekali Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Tidak sedikit juga kaum muslimin yang gemar melakukan dosa besar. Mata kita pun masih bisa melihat masih banyak di sekitar kita yang shalatnya bolong-bolong. Padahal para ulama telah sepakat sebagaimana di katakan oleh Ibnul Qayyim bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa-dosa lainnya. Lebih besar dari dosa zina, berjudi, dan minuman-minuman keras. Begitu juga perzinaan dan perselingkuhan semakin merajalela di akhir zaman ini. Itulah berbagai dan maksiat yang sering diterjang. Itu semua mengakibatkan berbagai nikmat lenyap dan musibah tak kunjung hilang.

  Agar berbagai nikmat lenyap, agar terlepas dari berbagai bencana dan musibah yang tidak kunjung hilang , hendaklah setiap hamba meperbanyak taubat yang nashuh (yang sesungguhnya). Karea, dengan beralih kepada ketaatan dan amal shalih, musibah tersebut pasti hilang dan berbagai nikmat pun akan segera datang.

Akibat perbuatan maksiat   Selain hal di atas, Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya, ad-Da' wa ad-Dawa' juga menyebutkan berbagai dampak dari sebuah kemaksiatan. Di antaranya:

 1.   Tidak mendapatkan ilmu. Sebab ilmu adalah nur (cahaya) yang di berikan Allah Subahana Wa Ta'ala kesebuah hati, sedangkan maksiat itu berfungsi mematikan nyala nur tersebut. Imam Malik pernah berkata kepada muridnya, asy-Syafi'i, "Sungguh, aku telah melihat Allah meletakkan nur dalam hatimu, maka jangan (pernah) engkau matikan dengan kemaksiatan."

 2.   Pelaku maksiat akan mengalami kegersangan jiwa terhadap Rabbnya. Dia akan kehilangan kelezatan ma'iyatullah (merasakan kehadiran Allah Subahana Wa Ta'ala). Padahal nikmat ini tidak bisa di nilai dengan kenikmatan duniawi di satukan tidak akan bisa mengobati kekeringan jiwa seseorang.

 3.   Semua perkaranya semakin susah . Maka dari itu, ia akan selalu mendapati pintu yang tertutup dari segala hal. Kebalikannya, orang yang menjauhi dosa akan selalu menemukan way out dari segala urusannya. Karena siapa saja yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikan segala urusannya mejadi lebih mudah (QS.ath-Thalaq:4)

 4.
   Pendosa akan merasakan kegelapan hati. Ia merasakan seperti saat berjalan pada malam yang kelam. Pertama kali akan tampak secara lahiriah di matanya, lalu mejalar keraut mukanya dan akhirnya akan di ketahui semua orang.

 5.   Kemaksiatan bisa melemahkan badan dan hati seseorang. Maka dari itu, ia tidak memiliki keteguhan hati dan juga terlihat loyo saat kegentingan yang memerlukannya, walau kelihatan tegap badan dan kekar ototnya.

 6.   Kemaksiatan menumbuhkan benih-benih dosa. Sebagian ulama berkomentar, "Termasuk balasan amal buruk (maksiat) adalah amal buruk berikutnya. Sedangkan balasan amal baik (hasanah) ialah amalan baik berikutnya."

 7.   Kemaksiatan membuat lemah keinginan pelakunya. Karena maksiat itu menguatkan keinginan berbuat dosa dan melemahkan keinginan bertaubat.

 8.   Kemaksiatan merupakan salah satu faktor jatuhnya sang pelaku di mata Allah dan masyarakatnya. Karena siapa saja yang di hinakan oleh Allah, maka tidak ada lagi yang bisa memuliakannya. (QS. al-Hajj: 18)


 9.  
Kesialan akan selalu menghatui pelakunya.

10.  Kemaksiatan dapat mewariskan kehinaan. Karena kehormatan dan kemuliaan hanya berada pada naungan ketaatan kepada Allah. Karena siapa saja yang menginginkan kemuliaan, sesungguhnya seluruh kemuliaan itu hanya milik Allah. (QS. Fathir: 10)

11. 
Dosa-dosa juga bisa menyingkirkan nikmat dan medatangkan bencana. Karena termasuk balasan buruk bagi pelakunya adalah menghilangkan kenikmatan yang datang dan memutus aliran nikmat yang akan di terima. Oleh karenanya, seorang hamba akan selalu berada dalam kenikmatan selama ia tidak melanggar dosa, dan tidak akan mendapati malapetaka melaikan karena merejang dosa. (QS. al-Anfal: 53)



12. 
Kemaksiatan mengerdilkan jiwa dan menjadikan hina. Sebaliknya, ketaatan akan membesarkan jiwa dan membersihkannya. Maka dari itu, beruntunglah orang yang senantiasa menyucikan jiwanya dari noda dosa (QS. asy-Syams: 9-10)

13. 
Kemaksiatan merampas nama terpuji dan kemuliaan. Maka ia kehilangan predikat mukmin, pelaku kebaikan, maupun orang yang bertakwa. Sebagai gantinya ia akan mendapatkan predikat pendurhaka, fasik, pezina, pemabuk dan lain-lain.

14.  Kemaksiatan akan memutus hubungan seseorang dengan Rabbnya. Jika hal itu terputus, maka terputuslah aliran kebaikan dan yang ada hanyalah semua faktor keburukan.

15.  Kemaksiatan menghapuskan keberkahan-keberkahan, baik keberkahan umur, rezeki, ilmu, pekerjaan, dan ketaatan. Secara keseluruhan akan menghilangkan keberkahan agama dan dunia.

16.  Kemaksiatan akan menarik mahluk lain untuk lebih berani (menyerang) kepada pelakunya. Maka dari itu, setan menjadi lebih berani menimpahkan penyakit, kesesatan, waswas, kesedihan dan kesusahan. Demikian pula manusia yang jahat dan hewan lian terhadap pelakunya.

17. Kemaksiatan itu menghianati pelakunya dalam hal yang amat di perlukannya. Baik itu dalam medapatkan ilmu,semisal menjadi lebih mementingkan sesuatu yang remeh dari pada yang lebih mulia.

18. Kemaksiatan bisa menjadikan lupa pelakunya terhadap dirinya sendiri. Jika ia melupakannya maka akan menyia-nyiakan, merusak dan menghancurkannya. Itu semua terjadi karena sebelumnya ketika berbuat maksiat ia telah melupakan Allah sehinggah Allah pun membuat ia lupa terhadap dirinya. (QS. al-Hasyr: 19)

19.
Kemaksiatan menjauhkan pelakunya  dari para penolongnya. Maka ia akan lebih dekat kepada setan yang bertaibat menghancurkan.

20. Termasuk efek maksiat menjadikan kehidupan sulit di dunia, dalam kubur dan mendapat siksa pedih di akhirat. (QS. Thaha: 124)

Penutup
   
Wahai para saudara dan saudariku, masih ada waktu untuk bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat, agar kita terhindar dari efek buruknya. Coba perhatikan bersama-sama firman Rabb kita yang mulia
(artinya):

Katakanlah, "Wahai para hamba-Ku yang telah menzalimi dirinya sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang." (QS. az-Zumar: 53)

   Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda :
"Bahwasanya Allah membentangkan kedua tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari. Dan membukanya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada malam hari."

  Semoga Allah senantiasa menjaga hati dan amal perbuatan kita dari segala yang membuat-Nya murka, dan mendekatkan hati dan amal perbuatan kita dari segala membuat-Nya. Wallahu a'lam.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar