Rabu, 19 April 2017

MISTERI AKHIR ZAMAN ~ TURUNNYA ISA 'ALAIHISSALAM



Isa 'Alaihissalam turun setelah keluarnya Dajjal yang terlaknat. Perkara turunnya Isa 'Alaihissalam dan bahwasanya dia akan membunuh Dajjal adalah haq dan benar menurut Ahlus Sunnah wal Jama'ah berdasarkan hadits-hadits shahih yang berkenaan dengan hal tersebut. Dan tidak ada pada akal maupun syara' yang dapat membatalkannya, sehingga ia harus ditetapkan. Namun hal ini diingkari oleh sebagian Mu'tazilah dan Jahamiyah serta orang-orang yang sepaham dengan mereka. Mereka menyangka bahwa hadits-hadits tentang turunnya Isa 'Alahissalam tertolak dengan Firman Allah Subahana Wa Ta'ala,

"Dan (Muhammad adalah) penutup para Nabi."  (Al-Ahzab: 40).

Dan Sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam,

"TIdak ada nabi setelahku,"  (Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad, 1/182.)

dan ijma' (konsensus) kaum Muslimin bahwa tidak akan ada nabi setelah Nabi kita Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam dan bahwa syariat beliau kekal abadi sampai Hari Kiamat; tidak mansukh.

Argumentasi ini tidak benar, karena yang dimaksud turunya Isa 'Alaihissalam bukan turun sebagai nabi dengan syariat baru yang menggantikan syariat kita. Dan sedikit pun pengertian seperti ini tidak ditemukan dalam hadits-hadits ini, dan tidak pula dalam hadits yang lain. Bahkan telah Shahih bahwa Isa 'Alaihissalam turun sebagai hakim yang adil dengan hukum syariat kita dan menghidupkan ajaran-ajaran agama kita yang telah ditinggalkan manusia."  (Syarh Shahih Muslim, karya an-Nawawi, 18/75-76.)

DALIL TURUNNYA ISA 'ALAIHISSALAM

Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu ia berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

'Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, telah dekat waktu turunnya putra Maryam pada kalian sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, menanggalkan jizyah (upeti), harat melimpah sampai tidak ada seorang pun yang mau menerimanya; sehingga satu sujud lebih berharga daripada dunia dan seisinya'."

Kemudian Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu berkata, "Bacalah kalau kalian mau,

"Tidak ada seorang pun dari ahli kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan pada Hari Kiamat nanti Isa akan menjadi saksi terhadap mereka'."  (An-Nisa: 159).
(Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari,no.3448; Muslim,no.155; dan at-Tirmidzi,no.2233.)

Menghancurkan salib: Membatalkan Agama Nasrani dengan menghancurkan salib dan membatalkan apa yang diyakini orang-orang Nasrani berupa pengagungan terhadapnya.
Meninggalkan jizyah (upeti): Tidak menerimanya dan tidak menerima dari orang kafir, kecuali harus masuk Islam. Siapa di antara mereka yang mengeluarkan jizyah, dia tidak memaafkannya (tetap diperangi). Dia tidak menerima kecuali Islam atau perang. 
Harta melimpah: Harta menjadi banyak dan berkah turun, disebabkan keadilan dan tidak ada kezhaliman. 

Dari Abu Qatadah al-Anshari ia berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,
'Bagaimana kalian, jika putra Maryam (Isa 'Alaihissalam) turun pada kalian sementara imam kalian dari kalangan kalian?"  (Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari,no.3448; dan Muslim,no.155.)

Dan dalam riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,
"Bagaimana kalian, jika turun pada kalian putra Maryam lalu yang menjadi imam kalian adalah dari kalangan kalian?"

Berkata Ibnu Abi Dzi'b,
"Yakni menjadi imam kalian dengan kitab Rabb kalian yang Mahasuci dan Mahatinggi (al-Qur'an) dan sunnah Nabi kalian Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam." 
(Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.155.)

CIRI-CIRI AL-MASIH ISA 'ALAIHISSALAM

Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam telah menggambarkan al-Masih putra Maryam 'Alaihissalam dalam banyak haditsnya yang shahih supaya kaum Muslimin mengenalnya manakala ia telah turun. Di antara hadits-hadits tersebut ialah:

Hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu'anhu, dari Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam, beliau bersabda,

"Tadi malam aku bermimpi berada di sisi Ka'bah, tiba-tiba ada seorang laki-laki berkulit sawo matan, rambutnya sampai ke pundak lagi berombak dan kepalanya meneteskan air, dia melakukan thawaf di Ka'bah dengan dipapah dua orang, lantas saya bertanya, 'siapa ini' Orang-orang menjawab, 'Al-Masih Putra Maryam'."  
(Lihat Fath al-Bari, 6/560. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari,no.3440; dan Muslim,no.169.)

Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu bahwa Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

"Tidak ada nabi antara aku dan antara dia -yakni Isa-, sesungguhnya dia akan turun, jika kalian melihatnya maka kenali dia; seorang laki-laki yang berperawakan sedang, dekat kepada warna merah dan putih, mengenakan dua pakaian kuning muda, seakan-akan di kepalanya mengalir air meskipun tidak basah. Dia kan memerangi manusia karna Islam; dia menghancurkan salib, membunuh babi, dan menanggalkan jizyah. Pada zamannya, Allah membinasakan semua agama kecuali Islam, dan membinasakan al-Masih Dajjal. Dia tinggal di bumi selama empat puluh tahun, lalu dia meninggal dan dishalatkan oleh kaum Muslimin."  (Diriwayatkan oleh Abu Dawud,no.4324)

Dalam hadits an-Nawwas bin Sam'an bahwa Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam suatu pagi memberikan mereka gambarang tentang al-Masih Isa 'Alaihissalam,

"Apabila dia menundukkan kepalanya seakan-akan air mengalir, dan apabila diangkatnya seakan-akan biji-biji mutiara berjatuhan."   
(Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari,no.3437; dan Syarh Shahih Muslim, karya an-Nawawi,18/67.)

Dalam riwayat yang lain dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, dari Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam, beliau bersabda,

"Dan aku menjumpai Isa -yakni pada malam Isra-: dia berperawakan sedang, berkulit merah, seolah-olah dia baru keluar dari kamar mandi."
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari,no.3437; dan Muslim,no.168.

Dan dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas, dari Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam berliau bersabda,

"Aku melihat Isa berkulit merah. rambut keriting, berdada bidang."
(Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari,no.3438.)
Bahwa Isa berkulit merah dan berambut keriting diingkari oleh Ibnu Umar dan dia bersumpah atas hal itu,sebagaimana disebutkan dalam Fath al-Bari. An-Nawawi mengkompromikan antara hadis Abu Hurairah ini dan riwayat Ibnu Umar, beliau berkata, "Merah bisa ditakwilkan sawo matang. Dan maksudnya bukan merah dan sawo matang murni melainkan yang mendekatinya. Wallahu a'lam." Pent.

DI MANA AL-MASIH ISA 'ALAIHISSALAM TURUN?

Dalam hadits an-Nawwas bin Sam'an, dari Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam beliau bersabda,

"Allah mengutus al-Masih putra Maryam dan turun di sisi menara putih sebelah Timur Damaskus."
(Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari,no.3437.)
An-Nawawi berkomentar, "Dan menara ini telah ada sekarang di sebelah Timur Damaskus."

PENGEPUNGAN

Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu'anhu ia berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

'Kaum Muslimin lari ke gunung ad-Dukhan di syam. Lalu Dajjal mengejar dan mengepung mereka, ia mengepung ketat dan memberikan tekanan sangat keras kepada mereka. Kemudian Isa bin Maryam turun dan mencegah kalian untuk memerangi si pendusta yang keji? Mereka berkata, 'Orang ini kerasukan jin'."
(Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad,3/367-368 dan isnadnya shahih dari Jabir.)

Dan dalam riwayat yang lain dari Utsman bin Abi al-'Ash Radhiyallahu'anhu ia berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

'Mereka (kaum Muslimin) dilanda kelaparan yang sangat dan sangat kesulitan -yakni akibat kepungan Dajjal- sampai-sampai salah seorang dari mereka membakar tali busur pananya, lalu memakannya. Pada saat mereka dalam keadaan seperti itu tiba-tiba ada yang berseru pada penghujung malam, 'Wahai sekalian manusia! pertolongan telah datang pada kalian! (dia mengatakannya tiga kali).' Mereka saling berkata satu sama lain, 'Sungguh ini benar-benar suara orang yang kenyang'."   
(Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad,4/217: dari Utsman bin Abi al-'Ash.)

APA HIKMAH TURUNNYA ISA 'ALAIHISSALAM?

 Orang-orang Yahudi telah berbuat jahat terhadap Nabiyullah Isa serta menyakitinya. Manakala orang-orang Yahudi merencanakan pembunuhan terhadapnya, Allah tidak memperkenankannya mereka untuk membunuhnya, bahkan Dia-lah yang akan membunuh mereka pada akhir zaman, kerena ganjaran sesuai dengan jenis perbuatan.

Sebagai bantahan terhadap klaim orang-orang Yahudi bahwa mereka telah membunuh Isa 'Alaihissalam, maka Allah Ta'ala menampakkan kedustaan mereka, dan bahwa dia akan membunuh mereka dan juga membunuh Dajjal.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

"Dajjal akan diikuti tujuh puluh ribu Yahudi Asfahan, mereka mengenakan jubah tebal bergaris-garis."  (Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.2944.)

Dan dalam riwayat Imam Ahmad,

",,,tujuh puluh ribu Yahudi Asfahan mengenakan mahkota bermutiara."

"Isa 'Alaihissalam akan mengejar Dajjal sampai di sisi bab Lud. Apa bila Dajjal melihatnya, ia meleleh seperti melelehnya garam. Lalu Isa 'Alaihissalam berkata padanya, 'Sesungguhnya saya memiliki satu pukul padamu, kami tidak akan lepas dariku." Lalu Isa menyusulnya dan membunuhnya dengan tombaknya. Para pengikutnya melarikan diri dan orang-orang Mukmin mengejar mereka. Orang-orang Mukmin membunuh mereka sampai pohon dan bebatuan berkata, 'Hai Muslim! Hai hamba Allah! Ini ada orang Yahudi bersembunyi di belakangku. Kemarilah bunuhlah dia!' Kecuali pohon al-Gharqad, sesungguhnya itu adalah pohon Yahudi."  (Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.2922.)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu'anhu bahwa ia berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

'Dajjal akan keluar pada saat agama dalam keadaan lemah dan pada saat ilmu ditinggalkan...'," kemudian ia menyebutkan lengkap haditnya. Dan di dalamnya,

"... Kemudian Isa bin Maryam turun dan menyeru pada akhir malam, 'Wahai sekalian manusia! Apa yang menghalangi kalian keluar menuju si pendusta yang keji?' Mereka berkata, 'Orang-orang ini kerasukan jin'. Kemudian mereka mendatanginya, dan ternyata mereka mendapati Isa bin Maryam 'Alaihissalam. Kemudia iqamah shalat dikumandangkan, ada yang berkata, 'Silahkan maju wahai ruh Allah.' Dia berkata, 'Hendaklah imam kalian maju dan mengimami kalian.' Apabila dia telah selesai shalat shubuh, mereka keluar menuju Dajjal. Manakala sang pendusta melihat Isa, ia meleleh seperti melelehnya garam dalam air. Isa berjalan mendekatinya lalu membunuhnya. Sampai kemudian pohon dan bebatuan memanggil, 'Hai ruh Allah! Ini orang Yahudi.' Dia tidak meninggalkan seorang pun yang mengikuti Dajjal kecuali membunuhnya."  (Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad,4/72.)

Dahulu mereka (orang-orang Yahudi) mencari-cari al-Masih (Isa) pada setiap tempat untuk membunuhnya, maka kini semua bantu pepohonan berbicara -kecuali pohon al-Gharqaq memanggil al-Masih untuk membunuh mereka. Maka al-Masih ash-Shiddiq membunuh al-Masih yang menyesatkan; Masih al-Huda membunuh membunuh Masih adh-Dhalalah.
Isa turun medustakan orang-orang Nasrani, lalu melihat kedustaan dakwaan mereka bahwa mereka telah menyalibnya, maka ia menghancurkan salib, membunuh babi, dan menanggalkan jizyah serta tidak menerima dari manusia kecuali Islam.
Mereka mengagungkan apa yang tidak mereka klaim bahwa ia disalib padanya, maka al-Masih menghancurkannya.
Ibnu Hajar berkata, "Menghancurkan salib," yakni membatalkan agama Nasrani, yaitu dengan menghancurkan salib, dan membatalkan apa yang di sangka oleh orang-orang Nasrani sebagai bentuk pengagungan kepadanya. Serta dia membunuh babi dan menaggalkan jizyah.

Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, dari Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam,

"... dan aku adalah orang yang paling berhak dengan Isa bin Maryam, karena tidak ada nabi antara aku dan dia, dan sesungguhnya dia benar-benar akan turun, apabila kalian melihatnya, maka kenalilah dia: laki-laki berperawakan sedang, berwarna kulit dekat kepada merah dan putih, dia memakai dua baju yang terdapat warna kuningnya, seakan-akan kepalanya mengalirkan air meskipun tidak basah. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menanggalkan jizyah. Dia menyeru manusia agar masuk ke dalam agama Islam. Pada zamannya, Allah melenyapkan semua agama kecuali Islam serta membinasakan al-Masih Dajjal. Keamanan akan merata di atas bumi sampai singa merumput bersama-sama unta, harimau bersama sapi, serigala bersama kambing, dan anak-anak bermain dengan ular yang tidak akan membahayakan mereka. Dia akan tinggal di bumi selama empat puluh tahun kemudian meninggal, lalu dia dishalatkan oleh kaum Muslimin."  (Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam al-Musnad,no.9017.)

Adapun kisah hajinya 'Alaihissalam, telah diriwayatkan oleh Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, dari Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam, beliau bersabda,

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh putra Maryam akan berihram dari Fajj ar-Rauha untuk melakukan haji atau umrah atau kedua-duanya."

DENGAN SYARIAT SIAPA ISA 'ALAIHISSALAM AKAN MEMUTUSKAN HUKUM?

Dia menetapkan hukum dengan syariat Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam dan akan menjadi pengikut beliau. Sesungguhnya syariay agama Islam merupakan agama penutup dan abadi sampai Hari Kiamat, tidak mansukh (dihapus/digantikan). Jadilah Isa sebagai satu dari sekian hakim umat ini serta menjadi pembaharu Islam, karena tidak ada Nabi lagi setelah Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam. Adapun perihal Isa menanggalkan jizyah dari orang kafir padahal ia disyariatkan sebelum turunnya beliau 'Alaihissalam bukan merupakan naskh terhadap hukum jizyah yang dibawa oleh Isa sebagai syariat baru. Karena syariat memungut jizyah dibatasi dengan turunnya Isa 'Alaihissalam berdasarkan berita Nabi kita Shallallahu'alaihi wa sallam. Beliaulah yang menjelaskan naskh ini dengan sabdanya,

"Demi Allah, sungguh putra Maryam akan turun sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan akan menanggalkan jizyah."  (Sudah ditakhrij sebelumnya.)

Selamat buat umat Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, Nabi mereka adalah Nabi yang paling agung, pembaharu terakhir mereka adalah seorang Nabi yang menganut agama Rasulullah dan Syariatnya, bahkan orang berpredikat sahabat dari mereka yang paling terakhir adalah seorang Nabi.

Adz-Dzahabi berkata, "Isa bin Maryam 'Alaihissalam adalah seorang sahabat sekaligus Nabi, karena dia telah melihat Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam pada malam Isra' dan mengucapkan salam kepadanya. Dia adalah sahabat yang paling terakhir meninggal."

FATWA-FATWA AL-LAJNAH AD-DA'IMAH LI AL-BUHUTS AL-ILMIYYAH WA AL-IFTA'

Fatwa no.1621:
Pertanyaan pertama: Apakah Isa bin Maryam masih hidup atau sudah mati? Apa dalilnya dari Kitab dan Sunnah?

Pertanyaan kedua: Apabila dia masih hidup atau telah meninggal, di mana dia sekarang? Apa dalilnya dari Kitab dan Sunnah?

Segala puji hanya bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah keharibaan baginda Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya, amma ba'du:

Jawaban terhadap pertanyaan pertama dan kedua:
Isa bin Maryam Alaihissalam masih hidup dan belum meninggal sampai sekarang. Orang-orang Yahudi tidak pernah membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi orang yang mereka bunuh adalah orang yang diserupakan dengan Isa. Allah telah mengangkatnya ke langit dengan badan dan ruhnya, dan dia sekarang berada di langit. Dalilnya adalah Firman Allah Ta'ala tentang kedustaan orang-orang Yahudi beserta bantahan terhadapnya. Allah Ta'ala berfirman,

"Dan karena ucapan mereka, 'Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam Rasul Allah,' padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka,  mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadaNya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."  (An-Nisa:157-158).

Pada ayat di atas Allah Subahana Wa Ta'ala mengingkari perkataan orang-orang Yahudi bahwa mereka telah membunuh dan menyalibnya, dan Dia mengabarkan bahwa Isa diangkat kepadaNya. Yang demikian itu adalah rahmat penghargaan dari Allah Ta'ala padanya, dan agar menjadi tanda dari tanda-tandaNya yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki di antara para RasulNya. Alangkah banyak ayat-ayat Allah Tentang Isa Bin Maryam 'Alaihissalam pertama dan terakhir.

Dan konsekuensi kata sanggahan dalam Firman Allah,
"Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepadaNya."  (An-Nisa:158)

Adalah Allah Subahana Wa Ta'ala telah mengangkat Isa 'Alaihissalam lengkap jasad dan ruhnya sekalian agar terwujud sanggahan terhadap prasangka Yahudi bahwa mereka menyalib dan membunuhnya. Karena pembunuhan dan penyaliban pada asalnya dilakukan terhadap jasad, dan karena pengangkatan ruh semata tidak menafikan klaim mereka bahwa mereka membunuh dan menyalibnya, sehingga pangangkatan ruh semata bukan menjadi bantahan dan sanggahan terhadap mereka. Juga karena hakikat nama Isa 'Alaihissalam adalah untuk ruh dan badan sekalian, maka ketika nama Isa disebutkan tidak bisa dibawa kepada salah satunya kecuali dengan dasar indikasi dan di sini tidak ada indikasi tersebut. Dan karena pengangkatan ruh dan jasadnya sekalian menunjukkan kesempurnaan keagungan, hikmah, penghargaan, dan pertolongan Allah terhadap siapa yang Dia kehendaki diantara rasul-rasulNya sesuai dengan yang ditunjukkan oleh FirmanNya Ta'ala pada penutup ayat,

"Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."  (An-Nisa:158).

Dan insyah Allah akan ada tambahan penjelasan dalam jawaban pertanyaan ketiga.

Pertanyaan ketiga dan keempat:
Jikalau Isa 'Alaihissalam masih hidup, apakah dia akan turun pada akhir zaman serta menjadi hakim di tengan-tengah manusia dan mengikuti agama Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam dalam hal itu? Apa dalilnya? Dan dengan apa kita membantah orang yang berkeyakinan bahwa Isa tidak akan turun pada akhir zaman serta tidak akan menjadi hakim di tengah-tengah manusia?

Jawaban pertanyaan ketiga dan keempat:Ya, Nabiyyullah Isa bin Maryam akan turun pada akhir zaman dan menjadi hakim di tengah-tengah manusia dengan adil berdasarkan syariat Nabi kita Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menanggalkan jizyah dan tidak menerima apa pun dari orang kafir kecuali Islam. Seluruh ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani akan beriman kepadanya sebelum ia meninggal setelah ia turun pada akhir zaman. Allah Ta'ala berfirman,

"Tidak ada seorang pun dari ahli kitab, kecuali akan beriman kepada (Isa) sebelum kematianya. Dan pada Hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka."  (An-Nisa':159).

Allah Ta'ala mengabarkan bahwa seluruh ahli kitab dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani akan beriman kepada Isa bin Maryam 'Alaihissalam sebelum kematiannya -yakni kematian Isa-. Yang demikian itu pada saat ia turun pada akhir zaman sebagai hakim yang adil mengajak kepada Islam, sebagaimana akan dijelaskan dalam penjelasan tentang turunnya. Makna inilah yang diinginkan, karena pembicaraan disuguhkan dalam rangka menjelaskan sikap orang-orang Yahudi terhadap Isa serta perbuatan mereka terhadapnya 'Alaihissalam dan dalam rangka menjelaskan sunnatullah dalam hal menyelamatkan serta membalas tipu muslihat musuh-musuhnya. Sehingga kedua dhamir majrur dalam ayat di atas (yaitu yang digaris bawahi dalam terjemahannya) harus dikembalikan kepada Isa 'Alaihissalam demi menjaga alur pembicaraan dan demi menyatuhkan tempat berpulang kedua dhamir tersebut.

Dan telah tsabit di dalam hadits yang sangat banyak lagi shahih dari berbagai jalur yang sampai kepada derajat mutawatir, bahwasanya Allah Ta'ala telah mengangkat Isa 'Alaihissalam ke langit dan dia akan turun di akhir zaman. Hadits-hadits tersebut adalah mutawatir dari Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Ibnu Mas'ud, Utsman bin Amr al-'Ash, Abu Umamah, an-Nawwas bin Sam'an, Abdulullah bin Amr bin al-'Ash, Mujammi' bin Jariyah, dan Hudzaifah bin Usaid Radhiyallahu Taala'anhu. Di dalam hadits-hadits tersebut terdapat penjelasan tentang gambaran turunnya Isa dan tempat di mana dia akan turun.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

"Demi Dzhat yang jiwaku ada di tanganNya, seungguh telah dekat waktu turunnya putra Marayam di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menanggalkan jizyah (upeti). Harta melimpah sehingga tidak seorang pun mau menerimanya."

Abu Hurairah berkata, "Bacalah jika kalian mau!"

"Tidak ada seorang pun dari ahli kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di Hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka."  (An-Nisa':159).

Dan dalam riwayat yang lain dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, dari Nabi Shallallahu'alaihi wasallam, beliau bersabda,

"Bagaimana kalian jika telah turun di tengah-tengah kalian putra Maryam sementara imam kalian dari kalian."

Dan juga telah tsabit dalam hadits yang shahih bahwa Jabir bin Abdullah Rahimahullah mendengar Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

"Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku, mereka berperang di atas kebenaran, mereka menang sampai Hari Kiamat. Lalu Isa bin Maryam 'Alaihissalam turun. Maka amir mereka berkata, 'Kemarilah, shalatlah sebagai imam bagi kami.' Dia berkata, 'Tidak, sesungguhnya sebagian kalian ada pemimpin bagi sebagian yang lain sebagai penghormatan dari Allah bagi umat ini'.

Hadits-hadits ini menjadi dalil akan turunnya Isa di akhir zaman, dan bahwa dia akan memutuskan hukum dengan syariat Nabi kita, Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam. Dan bahwa yang menjadi imam bagi umat ini di dalam shalat dan lainnya ketika Isa turun adalah dari umat ini. Berdasarkan hal ini, tidak ada pertentangan antara turunnya Isa dan antara ditutupnya risalah kenabian dengan risalah baru. Bagi Allah-lah hukum pertama dan terakhir, Dia tidak ada yang bisa membantah keputusanNya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Pertanyaan kelima: Sebagaimana bahwa Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam adalah Nabi paling utama, tetapi kenapa justru bukan dia yang diangkat ke langit sebagai ganti dari Isa, jika Isa benar-benar diangkat ke langit? Dan kenapa hanya Isa yang diangkat tanpa nabi-nabi yang lain? Berikan alasan berserta dalil!

Jawaban pertanyaan kelima:
Sesungguhnya rahmat dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu, begitu juga kekuatan dan kekuasaanNya. Mahasuci Dia, kepunyaanNya hikmah yang tiada tara, kehendak yang terlaksana dan kekuasaan yang mencakup. Dia memilih siapa yang dikehendaki dari kalangan manusia sebagai nabi dan rasul yang membawa kabar gembira dan peringatan. Dia mengangkat sebagian mereka di atas sebagain yang lain beberapa derajat, dan mengkhususkan masing-masing mereka dengan beberapa keistimewaan sebagai karunia dan rahmat dariNya. Dia mengkhususkan gelar sebagai khalilullah bagi Ibrahim dan Muhammad 'Alaihissalam, dan mengkhususkan setiap Nabi dengan sesuatu yang dikehendaki berupa tanda-tanda dan mukjizat yang relevan dengan masanya. Dengan tanda-tanda dan mukjizat itu hujjah tegak atas kaumnya sebagai hikmah dan keadilan dari Allah, tida yang kuasa menentang hukumNya. Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana, Mahasantun, dan Maha Mengetahui. Akan tetapi tidaklah setiap keistimewaan dengan sendirinya mengharuskan adanya predikat keutamaan (kelebihan). Maka dikhususkannya Isa dengan diangkat ke langit adalah berlaku sesuai kehendak dan hikmahNya, bukan lantaran dia lebih umata dari saundara-saudaranya para rasul yang lain seperti Ibrahim, Muhammad, Musa, dan Nuh 'Alaihissalam. Mereka semua telah diberikan sejumlah keistimewaan dan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa mereka lebih diutamakan atasnya. Secara umum dalam hal itu perkaranya kembali kepada Allah, Dia mengaturnya sesuai kehendakNya; Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat sebab Dia memiliki kesempurnaan ilmu dan hikmah. Kemudian mempertanyakan hal itu tidak berkonsekuensi sebuah amal atau sebuah keyakinan, malah bia jadi orang yang masuk ke dalamnya ditimpa kebimbangan dan dikuasi keraguan dan kebingungan. Seorang mukmin wajib bersikap 'menerima' pada perkara-perkara yang merupakan urusan Allah, dan agar giat pada perkara yang merupakan urusan hamba baik yang berupa akidah atau amal. Inilah manhaj para Nabi dan rasul, serta jalan Khulafa'ur Rasyidin dan para ulama slah yang memdapat petunjuk.

Pertanyaan keenam: Mengapa Isa bin Maryam dinamakan al-Masih?

Jawaban pertanyaan keenam:
Isa bin Maryam dinamakan al-Masih kerena tidaklah dia mengusap seorang yang memiliki penyakit kecuali sembuh dengan izin Allah. Sebagaiman salaf berkata, "Dia dinamakan al-Masih karena dia menjelajah bumi dan banyak melakukan perjalanan untuk berdakwah mengajak kepada agama ini."

Berdasarkan dua pendapat ini al-Masih artinya: yang mengusap.
Dikatan (dalam riwayat lain), ia dinamakan al-Masih karena kedua telapak kakinya rata tidak memiliki lekuk. Dan dikatakan (dalam riwayat lain), kerena ia diusap dengan berkah atau disucikan dari dosa sehingga menjadi orang yang penuh berkah.
Berdasarkan dua pendapat ini al-Masih artinya: yang diusap.
Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang pertama. Wallahu a'lam.

Yang jelas, hal ini tidak ada kaitannya dengan akidah dan tidak juga amal, sehingga manfaat mengetahuinya sedikit atau tidak ada sama sekali.

Pertanyaan ketujuh: Pada masalah ini terdapat beberapa nash yang dijadikan dalil oleh sekte al-Qadianiyah bahwa Nabi Isa telah meninggal dan telah dikubur. Saya mohon penjelasan nash-nash tersebut untuk membantah mereka.

Ayat yang pertama adalah Firman Alla Ta'ala,
"Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan."  (Al-Ma'idah:75).


Jawaban pertanyaan ketujuh:
Maksud ayat ini adalah membantah orang yang mengatakan, "Sesungguhnya Allah adalah al-Masih bin Maryam", yang mengatakan, "Sesungguhnya Allah salah satu dari yang tiga," serta yang mengatakan, "Sesungguhnya dia dalah putra Allah" dengan menjelaskan bahwa al-Masih 'Alaihissalam bukan Rabb dan bukan pula ilah yang berhak disembah, melainkan seorang rasul yang dimuliakan oleh Allah dengan kerasulan. Dia sama dengan rasul-rasul sebelumnya yang telah lalu, di mana ajalnya terbatas, tetapi ayat ini tidak menjelaskan kapan dia meninggal. Dan telah dijelaskan oleh dalil-dalil yang telah lalu dari Kitab dan Sunnah bahwa dia diangkat dalam keadaan hidup, dan bahwa dia akan turun sebagai hakim yang adil kemudian meninggal setelah ia turun di akhir zaman dan menjadi hakim di tengah-tengah manusia. Kemudian Allah menyebutkan bahwa Isa dan ibundanya makan makanan. Yang demikian itu menunjukkan bahwa mereka berdua bukan ilah sekutu Allah karena butuhnya mereka berdua sesuatu yang menjaga kelangsungan hidupnya berupa makanan. Sementara Allah adalah Maha Esa tidak bergantung pada sesuatu apa pun, Dia memiliki sifat 'tidak butuh' yang mutlak; segala sesua selainNya butuh kepadaNya dan Dia tidak butuh kepada sesuatu apa pun selainNya. Yang menguatkan bahwa maksud dari ayat di atas adalah seperti yang telah disebutkan yaitu bunyi ayat sebelum dan yang sesudahnya. Sebelum didahului oleh ayat,

"Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam',"  (Al-Ma'idah:72),

dan ayat,

"Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan: 'Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga'."  (Al-Ma'idah:73).

Setelah dua ayat itu Allah menyebutkan larangan ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, pengingkaran terhadap ibadah kepada selain Allah, dan laknat tehadap orang-orang yang melakukannya atau diam tidak mengingkarinya. Yang dimikian itu juga dijelaskan oleh FirmanNya Ta'ala dalam surat al-An'am,

"Katakanlah, 'Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?' "  (Al-An'am:14).

Ayat kedua: Firman Alla Ta'ala,
"Dan kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh meman makanan dan berjalan di pasar-pasar."  (Al-Furqan:20)


Jawaban:
Maksud ayat ini adalah bantahan atas orang-orang yang kufur terhadap risalah Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam, karena mereka beranggapan bahwa rasul berasal dari kalangan malaikat dan bukan dari kalangan manusia. Maka Allah membantah anggapan mereka dengan menjelaskan bahwa sunnahNya dalam mengutus rasul kepada manusia adalah dengan memilih mereka dari kalangan manusia dan bahwa mereka memakan makanan serta berjalan di pasar-pasar; mereka dalam hal ini sama seperti manusia yang lain. Dalam ayat di atas tidak terdapat batas ajal Isa 'Alaihissalam. Dan ayat-ayat yang lain serta hadits-hadits telah menjelaskan peristiwa pengangkatannya hidup-hidup, kemudian perihal turunnya dan perihal dia sebagai hakim setelah turun di akhir zaman, lalu kematiannya sebagaimana dijelaskan di muka.


Ayat ketiga: Firman Allah Ta'ala,
"Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal."  (Al-Anbiya':8).


Jawaban:
Dalam ayat ini tidak terdapat indikasi apapun yang menujukkan kematian Isa 'Alaihissalam pada saat orang-orang Yahudi saling bahu-membahu untuk membunuh dan meyalibnya. Akan tetapi ayat di atas menunjukkan bahwa para nabi dan rasul dan termasuk di antara mereka Isa, bukanlah tubuh-tubuh yang tidak makan, melainkan mereka juga makan sebagaimana manusia lain makan. Dan dalam ayat di atas dijelaskan bahwa mereka tidak kekal di dunia. Ahlus Sunnah mengimani hal itu, dan bahwa Isa seperti rasul-rasul yang lain; dia didatangi kematian seperti yang lainnya. Hanya saja Kitab dan Sunnah telah menunjukkan bahwa dia tidak akan meninggal kecuali setelah turun dari langit sebagai hakim yang adil; maka dia menghancurkan salib dan membunuh babi sebagaimana dijelaskan di muka.


Ayat keempat: Firman Allah Ta'ala,
"Dan sekali-kali kamu tiada akan mendapati perubahan pada sunnatullah."  (Al-Ahzab:62).

Jawaban:
Kalimat yang terdapat dalam ayat ini walaupun umum namun dikhususkan oleh mukjizat-mukjizat yang Allah perlihatkan lewat tangan-tangan rasulNya dan sebagai hujjah bagi mereka terhadap kaum mereka dalam menetapkan kerasulannya. Seperti terbelahnya laun bagi Musa menjadi dua belas jalan yang kering dengan satu kali pukulan tongkat, dan seperti Isa yang dapat menyembuhkan orang yang buta dan kusta, menghidupkan orang yang mati, menjadikannya hidup berabad-abad dan peristiwa turunya setelah itu termasuk yang dikecualikan dari keumuman ayat ini seperti mukjizat-mukjizat lainnya yang merupakan sunnatullah pada para RasulNya, dan tidak ada yang aneh dalam hal ini.


Ayat yang kelima: Firman Allah Ta'ala,
"Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil."  (Az-Zukhruf:59). 

Jawaban:
Ayat ini menetapkan sifat kehambaan bagi Isa 'Alaihissalam, dan bahwa Allah memberinya nikmat kerasulan dan bukan sebagai Rabb maupun sebagai Ilah. Bahwa dia adalah tanda kesempurnaan kekuasaan Allah, teladan yang tinggi dalam hal kebaikan yang patut untuk diteladani. Maksud ayat ini mirip dengan ayat yang pertama dan tidak terdapat padanya dalil apa pun yang menunjukkan penentuan ajal Isa 'Alaihissalam. Hanya saja penjelasan dan penentuan hal itu diambil dari nash-nash yang lain sebagaimana dijelaskan di muka.

Ayat keenam: Firman Allah Ta'ala,
"Katakanlah, 'Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan al-Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?"  (Al-Ma'idah:17). 

Jawaban:
Pada permulaan ayat ini disebutkan,
"Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih putra Maryam.' Katakanlah, 'Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan al-Masih putra Maryam itu berserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?"  (Al-Ma'idah:17)
FirmaNya,
"Katakanlah, 'Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah...(dst)',"
adalah bantahan terhadap anggapan mereka bahwa Isa 'Alaihissalam adalah Allah. Yaitu dengan menjelaskan bahwa Isa dan ibundanya merupakan dua hamba yang lemah, sama seperti makhluk-makhluk Allah yang lain. Seandainya Allah berkehendak untuk membinasakannya beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang ada di muka bumi, niscaya Allah Maha mampu untuk melakukannya. Tetapi Dia tidak menyamaratakan mereka dengan kebinasaan, malainkan memberlakukan ketentuannya pada mereka dengan kebinasaan pada waktu-waktu yang telah ditentukan sesuai dengan hikmahNya.

Termasuk dari hikmahNya adalah bahwa Dia tidak membinasakan Isa 'Alaihissalam ketika orang-orang Yahudi saling bahu-membahu untuk menghabisinya, dan tidak juga setelah dia diangkat. Melainkan Dia mengangkatnya hidup-hidup dan menjadikannya tetap hidup sampai pada saatnya nanti akan turun dan menjadi hakim di tengah-tengah manusia dengan syariat Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam, kemudian Allah mewafatkannya setelah itu sebagaimana dijelaskan di muka.

Ayat ketujuh: Firman Allah Ta'ala,
"Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam berserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir."  (Al-Mukminun:50).

Jawaban:
Maryam mengandung Isa 'Alaihissalam tanpa bapak yang berbeda dengan sunnah kauniah Allah pada selain keduanya. Hal ini termasuk bukti nyata yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah Subahana Wa Ta'ala. Allah melindungi mereka berdua di suatu tanah tinggi subur yang banyak terdapat padang rumput dan sumber air yang mengalir jernih dipadang mata, yaitu Baitul Maqdis di Palestina, bukan di salah satu negri di Pakistan. Yang demikian itu lebih dari lima ratus tahun sebelum Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam diutus, bukan lebih dari dua belas kurun setelah hijrah Nabi kita Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam. Barangsiapa mengatakan tanah tinggi tersebut berada di Pakistan atau menafsirkan putra Maryam dengan Ghulam Ahmad, ia telah menyimpangkan ayat dan berdusta terhadap Allah dan keluar dari realita sejarah.


Ayat kedelapan: Friman Allah Ta'ala,
"(Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu KepadaKu serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir'."  (Ali Imran:55).


Jawaban:
Argumentasi orang-orang qadiyaniyyin (penganut aliran Ahmadiyah) dengan ayat ini atas kematian Isa 'Alaihissalam dahulu dibangun atas penafsiran at-Tawaffi dengan makna mematikan. Tafsir ini menyelisihi tafsir yang shahih dari para ulama salaf, di mana mereka menafsirkannya bahwa Allah mengambil RasulNya, Isa 'Alaihissalam dari bumi dan mengangkatnya kepadaNya dalam keadaan hidup serta menyelamatkannya dari orang-orang kafir, sebagai upaya untuk menggabungkan nash-nash dari Kitab dan Sunnah yang shahih yang menunjukkan dia diangkat dalam keadaan hidup serta peristiwa turunnya di akhir zaman dan keimanan seluruh ahli kitab serta orang-orang selain mereka kepadanya ketika dia turun.

Adapun yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu'anhuma berupa penafsiran at-Tawaffi dengan mematikan adalah tidak shahih karena sanadnya munqathi', karena merupakan riwayat Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas, sedangkan Ali tidak pernah mendengar darinya dan tidak pula pernah melihatnya.

Tidak shahih juga apa yang diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih al-Yamani berupa penafsiran at-Tawaffi dengan mematikan, karena itu merupakan riwayat Muhammad bin Ishaq dari orang yang tidak disebutkan namanya (majhul) dari Wahb bin Munabbih, sementara Ibnu Ishaq adalah mudallis dan dalam sanadnya terdapat seorang majhul.

Kemudian penafsiran ini tidak lebih dari sekedar salah satu ihtimal (kemungkinan) dari makna at-Tawaffi. Karena kata at-Tawaffi memiliki beberapa tafsir: sesekali ia ditafsirkan bahwa Allah mengambilnya dari muka bumi lengkap badan dan ruhnya dan mengangkatnya kepadaNya dalam keadaan hidup. Juga ditafsirkan bahwa Allah mematikannya setelah pengangkatannya dan setelah ia turun di akhir zaman. Karena huruf wawu tidak mesti menunjukkan keberuntungan, malaikan hanya 'menggabungkan' dua perkara saja. Manakala terjadi tumpang-tindih pendapat dalam makna ayat, maka harus dibawa kepada pendapat yang sesuai dengan zahir dalil-dalil yang lain sebagai bentuk penggabungan antara dalil-dalil yang ada dan sebagai bentuk pengembalian ayat yang mutasyabih kepada yang muhkam sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli ilmu, bukan seperti orang-orang yang condong kepada kesesatan yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyibah untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya, semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka.


Ayat kesembilan: Firman Allah Ta'ala,
"Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka."  (Al-Ma'idah:117).


Jawaban:
Berargumentasi dengan ayat ini atas kematian Isa 'Alaihissalam sebelum ia diangkat ke langit atau setelah diangkat sebelum ia turun di akhir zaman dibangun di atas penafsiran at-Tawaffi dengan mematikan, sebagaimana yang telah lewat dalam jawaban terhadap ayat yang kedelapan. Dan telah disebutkan bahwa tafsir ini tidak benar dan bertolak belakang dengan yang ditafsirkan oleh para ulama salaf dalam rangka menggabungkan antara nash-nash dari Kitab dan Sunnah yang shahih.


Ayat kesepuluh: Firman Allah Ta'ala,
"Dan Dia memerintahkanku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup."(Maryam:31).


Jawaban:
Ucapan ini termasuk ucapan Isa 'Alaihissalam ketika masih bayi yang Allah ceritakan di dalam al-Qur'an. Dalam ayat ini hanya disebutkan bahwa Allah Subahana Wa Ta'ala memerintahnya mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama ia masih hidup, dan tidak terdapat penjelasan tentang berapa lama hidupnya, tidak pula penjelasan tentang waktu matinya. Dan semua itu telah dijelaskan oleh dalil-dalil yang telah disebutkan sebelumnya, sehingga nash-nash yang mujmal (global) harus dibawa kepada nash-nash yang mufasshal (terperinci), tidak dipertentangkan sebagiannya dengan sebagain yang lain, serta tidak berhenti hanya pada nash-nash yang mutasyabih. Karena semua nash itu bersumber dari sisi Allah; sebagian dengan sebagian yang lain saling menjelaskan dan saling menguatkan.


Ayat kesebelas: Firman Allah Ta'ala,
"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali."  (Maryam:33).


Jawaban:
Ayat ini sama seperti ayat sebelumnya, di dalamnya ditetapkan kesejahteraan dan keamanan baginya dari sisi Allah dalam setiap keadaannya. Dan tidak terdapat penjelasan batasan untuk masa hidupnya, tidak pula untuk waktu matinya, sehingga harus kembali kepada nash-nash lain yang menjelaskan hal itu, dan telah lewat penjelasannya.


Ayat kedua belas: Firman Allah Ta'ala,
"Dan berhala-berhala  yang mereka seru selain Allah tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat oleh orang. (Berhala-berhala itu) adalah benda mati yang tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan."  (An-Nahl:20-21).


Jawaban:
Ayat ini disuguhkan untuk membantah orang-orang yang menyembah selain Allah berupa malaikat, Uzair, Isa, Latta, Uzza, dan Manat. Bahwa mereka tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun walaupun hanya sekedar seekor lalat, bahkan mereka sendiri diciptakan, benda mati yang tidak hidup. Akan tetapi ayat-ayat yang lain menunjukkan bahwa Isa 'Alaihissalam tetap hidup sampai dia turun dan menjadi hakim di tengah-tengah manusia dengan syariat Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam kemudian baru dia meninggal.


Ayat ketiga belas: Firman Allah Ta'ala,
"Katakanlah (hai orang-orang Mukmin), 'Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedekan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya."  (Al-Baqarah:136).


Jawaban:
Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada para hambaNya untuk beriman kepada sekalian para nabi serta kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka dari Rabb mereka. Dan Dia menjelaskan bahwa Dia Subahana Wa Ta'ala tidak membeda-bedakan seorang pun dari mereka dalam kewajiban beriman kepada para rasul serta kepada kitab-kitab yang diturunkan terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berkata, "Jadilah kalian penganut agama Yahudi atas Nasrani niscaya kalian mendapat petunjuk" dan penjelasan bagi bantahan yang Allah globalkan terhadap mereka dalam FirmanNya untuk NabiNya, Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam,

 
"Katakanlah, 'Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan dia (Ibrahim) bukanlah dari golongan orang musyrik'."  (Al-Baqarah:135).


Bukan maksudnya perintah untuk tidak membedakan mereka dalam hal mati dan hidup, karena ini tidak ditunjukkan oleh konteks ayat melainkan menunjukkan apa yang kita sebutkan. Sebagaimana yang demikian itu tidak pernah didakwahkan oleh para rasul, sehingga membawa ayat ini kepadanya menrupakan penyelewengan terhadapnya dari makna yang diletakkan untuknya.


Seumpanya ayat ini,
"Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya."  (Al-Baqarah:136).


Dibawa pada keumumannya sehingga mencakup tidak membeda-bedakan mereka dalam hal mati dan hidup, maka realita dan nash-nash yang ada menunjukkan adanya perbedaan di antara mereka dalam banyak sifat mati dan hidup, jenis-jenisnya, zamannya, tempatnya, panjang dan pendek umurnya, dan sebagianya.

Berarti kehidupan Isa 'Alaihissalam, hal panjang umurnya, tempat hidup, serta kematiannya setelah itu di antara perbedaan yang ada antara dia dan saudara-saudaranya para nabi yang lain berdasarkan nash-nash yang telah lalu.

 Ayat keempat belas: Firman Allah Ta'ala,
 "Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagi kalian apa yang sudah kalian usahakan, dan kalian tidak akan diminta pertanggung jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan."  (Al-Baqarah:134).

 Jawaban:
 Maksud ayat ini, menjelaskan bahwa sekalian manusia akan diberikan balasan amalnya, tidak akan dibebankan kepada orang lain serta tidak akan diminta pertanggung jawaban tentangnya. Sebagaimana Firman Allah Ta'ala,

 "Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain."  (Fathir:18).

 Ia harus berusaha semampunya dalam melakukan kebaikan dan menjauhkan kejelekan serta tidak bergantung kepada orang lain, karena bangga dengannya atau karena berharap selamat dari azab Hari Kiamat lantaran dekat dengannya atau ada memiliki hubungan dan lantaran mengagungkannya di dunia.

Dan Isa 'Alaihissalam walaupun masuk dalam keumuman ayat di atas, tetapi dalil-dalil dari Kitab dan Sunnah telah mengkhususkannya bahwa dia diangkat ke langit dan dijadikan tetap hidup kemudian diturunkan di akhir zaman, dan seterusnya sampai akhir apa yang telah dijelaskan. Di antara kaidah yang telah maklum dalam syariat Islam bahwa nash-nash yang khusus dikedepankan atas nash-nash yang umum sekaligus mengkhususkannya. Dan nash-nash yang sedang kita bicarakan ini termasuk yang demikian itu.

Ayat kelima belas: Firman Allah Ta'ala,
"Mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu ada Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat (Isa) kepadaNya, dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."  (An-Nisa':157-158).

 Ayat keenam belas: Firman Allah Ta'ala,
 "Tidak ada seorang pun dari ahli kitab kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya, dan pada Hari Kiamat nanti Isa akan menjadi saksi terhadap mereka (An-Nisa':159).

 Jawaban:
Ayat ini telah dijelaskan ketika membasa ayat yang pertama, kedua, ketiga, dan keempat.
Secara umum, ayat-ayat al-Qur'an yang dijadikan sebagai pengangan oleh orang-orang qadiyaniyyun untuk mengkokohkan keyakinan mereka bahwa Isa 'Alaihissalam telah meninggal dan telah dikubur,
1. Entah nash-nash umum yang telah dikhususkan oleh ayat-ayat dan hadits-hadits yang lain, yang menunjukkan pengangkatan Isa 'Alaihissalam dalam keadaan hidup dan tetap tetap seperti itu sampai waktu dia turun di akhir zaman dan menghukumi dengan syariat al-Qur'an. Sementara orang-orang qadiyaniyyun benhenti di sisi keumuman ayat-ayat tersebut meski telah dikhususkan. Ini batil, lantaran menyelisihi kaidah dan pokok-pokok dasar Islam.

2. Atau ayat-ayat global yang telah dirincikan oleh nash-nash lain yang harus dipegang. Dan orang-orang qadiyaniyyun berpegang dengan keglobalan ayat-ayat tersebut serta menjadikannya sebagai argumen untuk kebatilan mereka tanpa kembali kepada ayat-ayat muhkamat yang menafsirkannya. Inilah perilaku orang-orang yang di hatinya ada kecondongan kepada kesesatan dan kemunafikan, yaitu orang-orang yang mengikuti nash-nash dari Kitab dan Sunnah yang mutasyabihat untuk menciptakan fitnah dan mencari-cari takwilnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka.

3. Atau penafsiran kata-kata yang didasarkan pada atsar-atsar yang tidak shahih penisbatannya kepada salaf, dan telah lalu penjelasan hal itu ketika membicarakan ayat kedepalan,

"(Ingatlah), ketika Allah berfirman, 'Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepadaKu."  (Ali Imran:55).

Mereka senang dengan atsar-atsar tersebut lantaran sesuai dengan hawa nafsu mereka, lalu mereka menggembar-gembarkannya di tengah-tengah orang-orang bodoh tanpa melihat sandarannya, bisa jadi karena kejahilan mereka, atau karena hendak mengecoh dan melariskan kebatilan mereka. Semua itu tidak mereka lakukan kecuali karna kecondongan mereka pada kesesatan dan keinginan mereka untuk menimbulkan fitnah. Allah Subahana Wa Ta'ala berfirman,

"Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikut sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melain Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami.' Dan tidak dapat mengambil pelajara (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal."  (Ali Imran:7).

Al-Bukhari dan lainnya telah meriwayatkan dari Aisyah ia berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam membaca ayat ini,

"Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur'an) kepada kamu. Dan antara (isi) nya ada ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami.' Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal'."(Ali Imran:7).

Aisyah berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

"Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat, itulah orang-orang yang Allah sebutkan (pada ayat di atas), maka waspadalah terhadap mereka'."

Dengan ini menjadi jelas bagi penanya agar mengebalikan ayat-ayat lainnya kepada sebagian ayat-ayat yang sejenis dengannya yang telah dijelaskan di atas.
Hanya kepada Allah-lah kita memohon taufik. Shalawat dan salam semoga tercurah keharibaan Nabi kita Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam, dan keluarga, beserta para sahabatnya.


                            Al-Lajnah ad-Da'imah Li al-Buhuts al-Ilmiyyah Wa al-Ifta'

                                     (Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa)

                                    Anggota                                           Anggota
                   Abdullah bin al-Gadayyan                     Abdulullah bin Qu'ud

                                      Ketua                                          Wakil Ketua
                        Abdul Aziz bin Baz                                Abdurrazzaq Afifi


MISTERI AKHIR ZAMAN
Berlajut..
"AL-MAHDI"

Penulis: Shalahuddin Mahmud
Judul Asli: Al-Masih ad-Dajjal wa Ya'juj wa Ma'juj
Penerbit: Darul Ghad ak-Jadid
Al-Manshurah Mesir
Telp/Faks.002.050.2254224
Edisi Indonesia: MISTERI AKHIR ZAMAN
*Keluarnya Dajjal *Turunnya Isa al-Masih Alaihissalam
*Diutusnya Imam Mahdi *Munculnya Ya'juj wa Ma'juj
Penerjemah: Jamaluddin,LC
Muraja'ah: Tim Pustaka DH
Desain Cover: Gobaqsodor
Penyebar: Abdul Rahman Bin Muis
E-Mail : rahmanmuis@rocketmail.com




















Rabu, 05 April 2017

MISTERI AKHIR ZAMAN ~ DAJJAL TIDAK MEMILIKI KETURUNAN



                 DAJJAL TIDAK MEMILIKI KETURUNAN

Dalam hadits Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu'anhu,dari Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,
.
"Dajjal tidak memiliki ana, serta tidak bisa memasuki Madinah dan tidak pula Makkah." 
(Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.2927; Ahmad dalam al-Musnad,3/43; dan at-Tirmidzi,no.2246.

TERTERA DI ANTARA KEDUA BELAH MATANYA 'KAFIR'

Dalam hadits Anas bin Malik Radhiyallahu'anhu ia berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,
'Tidaklah seorang nabi diutus kecuali telah memperingatkan umatnya dari si buta sebelah lagi pendusta. Ketahuilah, sesungguhnya dia buta sebelah dan Rabb kalian tidak buta sebelah; di antara kedua matanya tertera 'kafir'."  (Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari,no.7131; Muslim,no.2933; Abu Dawud,no.4316; dan at-Tirmidzi,no.2245.)

Dalam riwayat yang lain, juga dari  Anas bin Malik Radhiyallahu'anhu,
 "Tertera di antara kedua belah matanya 'kafir' kemudian beliau mengejanya, 'Ka-fa-ra'; bisa dibaca oleh setiap Muslim."  (Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.2933.)

Dalam riwayat yang lain,
 "Bisa dibaca oleh yang tidak mampu baca-tulis dan yang mampu baca-tulis."  (Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.2934.

Dalam riwayat yang lain,
"Bisa dibaca oleh setiap orang Mukmin yang mampu baca-tulis atau yang tidak mampu baca-tulis."  (Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.105; Ahmad,5/38; dan Ibnu Majah,no.4077.)

Dalam hadits Ibnu Umar,
"Tertera di antara kedua belah matanya ka-fa-ra; bisa dibaca oleh setiap orang yang benci terhadapat perbuatannya."  (Shahih: sudah ditakhirj sebelumnya.)

An-Nawawi Rahimahullah berkata,
"Yang benar,yang dipegang oleh para ulama peneliti bahwa tulisan ini sebagaimana zahirnya dan bahwa itu merupakan tulisan hakiki yang Allah jadikan sebagai tanda dan ciri dari sekian ciri yang menunjukkan kekafiran,kedustaan, dan kebatilannya. Allah Subahana Wa Ta'ala menampakkannya bagi setiap Muslim baik yang mampu baca-tulis maupun yang tidak mampu baca-tulis, dan menyembunyikanya dari orang-orang yang dikehendaki kesengsaraan dan fitnahnya."  
(Syar an-Nawawi li Shahih Muslim,18/80.)

Ditambahkan oleh Ibnu Hajar Rahimahullah
"Kemanapun melihat pada indra mata diciptakan oleh Allah bagi hamba bagaimana dan kapan Dia kehendaki. Yang ini (tulisan 'kafir' yang tertera di antara kedua belah mata Dajjal) bisa dilihat oleh orang Mukmin bukan dengan indra matanya,walau pun dia tidak mampu baca-tulis, namun tidak bisa dilihat orang kafir walaupun dia mampu baca-tulis. Sebagaimana orang Mukmin mampu melihat dalil dengan mata bashirahnya dan tidak dilihat oleh orang kafir. Allah menciptakan kemanpuan melihat bagi orang Mukmin tanpa proses belajar karena pada zaman itu kebiasaan berubah dalam masalah tersebut."  
(Fath al-Bari,13/107.)

SEBAB KELUARNYA DAJJAL

Dalam hadits Hafshah binti Umar Radhiyallahu'anha, bahwa dia mendengar Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya pertama kali keluarnya Dajjal kepada manusia adalah karena suatu kemarahan."

Dalam riwayat yang lain,
"Pada saat dia marah."

Dan dalam riwayat yang lain,
"Karena dia marah."   
(Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Fitan,no.2932; dan Ahmad dalam al-Musnad,6/283 dan 284.)

Dan para wanitalah yang menyebabkan kemarahannya.
Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam beliau bersabda,

"Yang pertama kali mengikutinya adalah dari kalangan wanita,lalu mereka menyakitinya, sehingga dia kembali dalam keadaan marah sampai di Khandaq."  
(Disebutkan oleh al-Haitsami dalam Majma'az-Zawa'id, 7/349 dan ia berkata, 'Diriwayatkan oleh at-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Ausath dan periwi-perawinya adalah para perawi as-Shahih selain Mukrim bin Uqbah adh-Dhabi, namun dia adalah tsiqah.)

KAPAN DAJJAL KELUAR?

Dari Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu'anhu ia berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

'Kemakmuran Baitul Maqdis merupakan tanda bakal kehancuran Yastrib (Madinah); kehancuran Yastrib (Madinah) merupakan tanda bakal terjadinya peperangan besar (antara penduduk Syam dengan orang Romawi); terjadinya peperangan besar tersebut adalah tanda bakal takluknya Konstantinopel; penaklukkan Konstantinopel adalah tanda akan keluarnya Dajjal."   (Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad 5/322; dan Abu Dawud,no.4294 serta dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih al-Jami',no.3975.)

Dari Abdulullah bin Mas'ud Radhiyallahu'anhu ia berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

'Sesungguhnya Kiamat tidak akan teradi hingga harta warisan tidak dibagi dan orang tidak merasa senang dengan harta rampasan perang."Kemudian beliau menunjuk ke arah Syam,seraya bersabda,"Musuh akan berkumpul memerangi orang-orang Islam,dan sebaliknya orang-orang Islam berkumpul untuk memerangi mereka -yakni Romawi-.Pada hari pertama,kaum Muslimin mengirim sebuah pasukan siap untuk mati,tidak kembali kecuali menang.Maka mereka pun berperang hingga mereka dipisah oleh malam,lalu masing-masing dari kedua belah pasukan kembali,semua tidak ada yang menang,dan pasukan ini gagal.Pada hari berikutnya,kaum Muslimin kembali mengirim sebuah pasukan siap untuk mati,tidak kembali kecuali menang.Mereka pun berperang hingga mereka dipisahkan oleh malam,lalu kedua belah pasukan kembali masing-masing kembali tanpa kemenangan,dan pasukan ini pun gagal.Pada hari ketiga,kaum Muslimin kembali mengirim pasukan siap untuk mati,tidak kembali kecuali membawa kemenangan.Maka mereka berperang sampai sore,lalu masing-masing kembali tidak ada yang menang,dan pasukuan ini pun gagal.Ketika tiba pertempurang hari keempat,orang-orang yang tersisa dari pasukan kaum Muslimin bangkat (dan maju) memerangi mereka,sehingga Allah menjadikan kekalahan atas para musuh; sampai kaum Muslimin berhasil membunuh mereka dalam (jumlah korban) yang tak pernah terlihat sebelumnya,bahkan sampai seekor burung yang terbang melewati bangkai-bangkai mereka,ia tidak sampai melwati merak sehingga jatuh mati (karena kelelahan disebabkan panjang dan luasnya arena gelimpangan mayat tersebut).Orang-orang Romawi satu sama lain saling menghitung (jumlah pasukannya yang tersisa) yang sebelumnya masih seratus orang,tetapi kaum Muslimin tidak menemukan kecuali satu orang laki-laki,maka dengan harta rampasan apa ia kan merasa bahagia? atau warisan mana yangdibagi? Manakala mereka sedang seperti itu,tiba-tiba mereka mendenga musibah/perkara yang lebih besar dari itu.Mereka didatangi penyeru bahwa Dajjal telah berada di tengah-tengah istri dan anak mereka,maka mereka melepas apa yang ada di tangan mereka dan segera menyongsong,kemudian mereka mengutus sepuluh penunggang kuda sebagai pasukan pengintai."

Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya,

"Sungguh akau benar-benar mengetahui nama mereka,nama bapak-bapak mereka,dan warna kuda-kuda mereka.Mereka adalah sebaik-baik penunggang kuda di Muka bumi pada saat itu atau termasuk sebaik-baik penunggang kuda di Muka bumi pada saat itu."
(Diriwayatkan oleh Muslim,no.2899.)

DARI MANA DAJJAL AKAN KELUAR

 Dari Abu Bakar as-Shiddiq Radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya Dajjal akan keluar dari sebuah tempat di daerah timur bernama Khurasan. Ia diikuti oleh sekelompok orang yang wajah mereka seakan-akan perisai yang dilapisi kulit."  
(Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad,1/4 dan 7; Ibnu Majah,no.4072; dan at-Tirmidzi,no.2237, Dishahihkan oleh al-Bani dalam as-Silsilah ash-Shahihah,no.1591.)

Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam menyerupakan wajah mereka dengan perisai karena rata dan bulatnya, dan dengan perisai yang dilapisi kulit karena kasar dan banyak dagingnya.


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu ia berkata,"Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

'Kiamat tidak akan terjadi hingga orang-orang Romawi singgah di al-A'maq atau Dabiq (dua nama tempat di negri Syam).Lalu akan keluar menghadapi mereka sebuah pasukan dari Madinah dari penduduk-penduduk bumi pilihan pada hari itu.Apabila mereka telah berhadapan,orang-orang Romawi berkata,'Biarkan kami memerangi orang-orang yang telah menawan orang-orang kami.'Orang-orang Islam berkata,'Tidak.Demi Allah,kami tidak akan membiarkan kalian memerangi saudara-saudara kami.'Mereka pun memeranginya;maka sepertiga pasukuan kaum Muslimin melarikan diri,Allah tidak akan menerima taubat mereka selamanya,dan sepertiga yang lain terbunuh,mereka adalah syuhada' yang paling utama di sisi Allah,dan sepertiga mereka menaklukkan musuh,mereka tidak akan terfitnah selamanya dan mereka menaklukkan Konstantinopel.Pada saat mereka sedan membagi harta rampasang peran,dan mereka telah menggantung pedang-pedang mereka pada pohon zaitun,tiba-tiba setan berseru,'Sungguh al-Masih telah berada di tengah-tengah anak-istri kalian!'Mereka pun segera berlarian,dan yang demikian itu tidak benar.Manakala mereka mendatangi Syam,ia keluar.Ketika mereka sedang mempersiapkan perang,tiba-tiba dikumandangkalah iqamat shalat.Maka Isa bin Maryam turun lalu menjadi imam mereka.Apabila musuh Allah melihatnya,ia mencair sebagaimana garam yang mencair di dalam air,seandainya Nabi Isa membiarkannya niscaya ia akan mencair hingga binasa.Akan tetapi Allah membinasakannya lewat tanganya,lalu memperlihatkan kepaa mereka darah Dajjal pada tombak Isa Alaihi salam."  (Shahih:Diriwayatkan oleh Muslim,no.2897.)

KECEPATAN DAJJAL DI BUMITelah datang dalam hadits an-Nawwas bin Sam'an bahwa Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam ditanya berapa ukuran kecepatan Dajjal di bumi? Beliau bersabda,
"Seperti awan yang dihembuskan angin."  (Diriwayatkan oleh Muslim,no.2937.)

At-Thibi berkata, "Kemungkinan mereka telah mengetahui kecepatan Dajjal di bumi, oleh sebeb itu mereka bertanya bagaimana ukuran kecepatanya, sebagaimana mereka telah mengetahui ia akan tinggal di bumi (sehingga mereka bertanya hitungan lamanya di mana mereka bertanya berapa lama masa tinggalnya."

Maksudnya bahwa ia berkecepatan di bumi seperti kecepatan awan.

BERAPA LAMA DAJJAL TINGGAL DI BUMI?

Dalam hadits an-Nawwas bin Sam'an Radhiyallahu'anhu: kami (para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, berapa lama masa tinggalnya di bumi?"
Beliau bersabda,

"Selama empat puluh hari; sehari seperti setahun, sehari berikutnya seperti sebulan, sehari berikutnya seperti seminggu, dan sisa hari-harinya yang lain sama seperti hari-hari kalian."

Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, berkenaan dengan hari yang sama seperti satu tahun, apakah cukup buat kami shalat satu hari?"
Beliau bersabda,

"Tidak, akan tetapi perkirakan ukurannya."  (Ibid)

Para ulama berkata, "Hadits ini dipahami sebagaimana zahirnya. Hari-hari yang tiga ini panjang seperti ukuran yang disebutkan di dalam hadits. Ditunjukkan oleh sabda beliau,

"Dan sisa hari-harinya yang lain sama seperti hari-hari kalian."

 Adapun pertanyaan mereka, "Wahai Rasulullah, berkenaan dengan hari yang sama seperti satu tahun, apakah cukup buat kamai shalat satu hari?" dan jawaban beliau,

"Tidak, akan tetapi perkirakan ukurannya."

Al-Qadhi Iyadh dan lainnya berkata, "Ini adalah hukum khusus pada hari tersebut yang disyariatkan oleh Allah kepada kita. Kalau saja bukan karena hadits ini dan kita diserahkan pada ijtihad kita, kita akan mencukupkan diri dengan shalat lima pada waktu-waktu yang telah diketahui pada hari-hari yang lain."

Makna sabda beliau bahwa jika telah berlalu terbit fajar, diperkirakan ukuran antara terbitnya dan antara waktu Zhuhur pada setiap hari lalu mereka shalat Zhuhur. Kemudia jika telah berlalu setelahnya seukuran antara Zhuhur dan Ashar dan Maghrib, mereka shalat Maghrib. Dan begitu seterusnya Isya' dan Shubuh, kemudian Zhuhur, kemudian Ashar, kemudian MAghrib, dan seterusnya hingga habis hari itu, dan jadilah telah ditunaikan padanya bilangan shalat fardhu setahun, seluruhnya ditunaikan pada waktunya.

Adapun hari yang kedua yang sama seperti sebulan, dan hari ketiga yang sama seperti seminggu, diperkirakan seperti hari yang pertama sebagaimana yang telah kira sebutkan, wallahu a'lam."

 Disebutkan dalam hadits Abdullah bin Amr, dari Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

"Dajjal akan keluar pada umatku, lalu tinggal selama empat puluh.." (perawi berkata), "Saya tidak mengetahui apakah maksudnya empat puluh hari atau empat puluh bulan, ataukah empat puluh tahun."  (Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.2940.)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fath al-Bari, "Memastikan bahwa yang dimaksud empat puluh hari harus dikedepankan daripada keragu-raguan ini. Karena telah diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari jalur lain, dari Abdulullah bin Amr dan di dalamnya,

"Ia tinggal di bumi selama empat puluh pagi (hari)."  
(Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad, 5/364 dan perawi-perawinya tsiqah, sebagaimana disebutkan dalam Fath al-Bari, 13/112 dan Majma'az-Zawa'id, 7/343.)

Jabir bin Abdulullah, dari Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam,beliau bersabda,

"Ia memiliki empat puluh malam (hari), selama masa itu ia berkeliling di bumi."  
(Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad, 3/367-368; dari Jabir dan sanadnya shahih, sebagaimana disebtkan dalam Majma'az-Zawa'id, 7/344.)

FITNAH DAJJAL ADALAH FINAH PALING BESAR

Dari Imran bin Husain Radhiyallahu'anhu ia berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

'Tidak ada perkara semenjak penciptaan Adam sampai datangnya Hari Kiamat yang lebih besar daripada perkara Dajjal'."  (Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.2946.)

Dalam hadits shahih dari Hudzaifah Radhiyallahu'anhu ia berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

'Aku paling tahu tentang apa yang bersama Dajjal. Bersamanya dua sungai yang mengalir: salah satunya sesuai pandangan mata adalah air yang putih dan yang lain sesuai pandangan mata adalah api yang menyala. Apabila salah seorang menemukannya hendaklah mendatangi yang ia lihat seperti api. Hendaklah ia memejamkan mata, kemudia menundukkan kepalanya lalu minum darinya, karena sesungguhnya ia adalah air yang dingin'."   (Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.105)

Dalam riwayat yang lain dari Hudzifah bahwa beliau Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda tentang Dajjal,

"Bersamanya air dan api. Apinya adalah air dingin, dan airnya adalah api, maka janganlah kalian binasa."
(Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari,no.7130; dan Muslim,no.2934 dan 2935.)

Dan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu,

"Dia datang dan bersamanya seperti suraga dan neraka. Yang katakan surga adalah neraka." 
(Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.2936.)

Semuanya ini kembali kepada ketidaksamaan sesuatu yang dilihat menurut orang yang melihat. Bisa jadi Dajjal adalah seorang penyihir lalu menggambarkan sesuatu yang merupakan kebalikan dari kenyataannya, dan bisa jadi Allah menjadikan bagian dalam surga yang diadakan Dajjal menjadi apai dan bagian dalam surganya menjadi neraka, dan inilah pendapat yang kuat.

Dan bisa jadi yang demikian itu merupakan kiasan tentang nikmat dan rahmat dengan surga serta kiasan tentang azab dan petaka dengan neraka. Barangsipa yang mematuhinya, maka Dajjal akan menbahagiakannya. dengan surganya lalau ujung-ujung perkaranya ia akan masuk neraka di akhirat, dan begitu sebaliknya.

Dan kemungkinan hal itu masuk dalam kategori ujian dan fitnah, karena saking dahsyatnya sehingga orang yang melihat neraka menyangkanya surga, dan begitu sebaliknya.  (Fath al-Bari, 13/107)

Dalam hadits al-Mughirah bin Syu'bah Radhiyallahu'anhu ia berkata,

"Tidak ada yang bertanya tentang Dajjal kepada Nabi seperti banyaknya pertanyaan saya (tentangnya) kepada beliau." Beliau Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam berkata kepadaku,

"Mudarat apa yang akan menimpamu darinya (sehingga kamu takut?)"
Saya berkata, "Karena mereka mengatakan bahwa bersamanya ada gunung roti dan sungai air" beliau bersabda,

"Bahkan itu lebih ringan bagi Allah daripada yang demikian itu."  (Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad di dalam al-Musnad, 4/216-217.)

Al-Qadhi Iyadh berkata,

"Maksudnya itu lebih ringan bagi Allah daripada Dia menjadikan apa yang diciptakan lewat tangannya untuk menyesatkan orang-orang Mukmin dan menjadikan ragu orang-orang yang yakin. Melainkan agar bertambah iman orang-orang Mukmin dan agara menjadi ragu orang-orang yang di hatinya ada penyakit, dan agar hujjah tegak terhadap orang-orang kafir, orang-orang munafik, dan orang-orang yang seperti mereka. Yaitu seperti ungkapan laki-laki yang di bunuh Dajjal (kemudian dihidupkan kembali),

"Tidaklah sebelumnya aku lebih yakin tentang (kedustaan) mu daripada keyakinanku hari ini."

Bukanlah maksud ungkapannya "Itu lebih ringan bagi Allah daripada yang demikian itu" bahwa semua itu tidak ada bersamanya. Tetapi maksudnya lebih ringan daripada menjadikan hal itu sebagai tanda kebenarannya, apalagi Allah telah menjadikan padanya tanda yang nampak tentang kedustaan dan kekufurannya yang bisa dibaca oleh orangg yang mampu membaca dan yang tidak, ditambah dengan bukti-bukti kedustaannya yang lain berupa kemunculannya yang baru dan cacatnya."
(Fat al-Bari, 13/199 dan Syarh Shahih Muslim, karna an-Nawawi, 18/74-75.)

Dalam riwayat Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu'anhu,

"Dajjal keluar, lalu seorang laki-laki dari kalangan orang-orang Mukmin pergi kepadanya. Maka ia dicegat oleh sekelompok pasukan Dajjal. Mereka berkata, 'Kamu hendak kemana?' di berkata, 'Saya hendak menuju orang ini yang telah keluar, 'Mereka berkata, 'Tidaklah kamu beriman kepada Rabb kita?' Ia menjawab, 'Rabb kita tidaklah samar,' Mereka berkata, 'Bunuh dia!' Sebagian mereka berkta kepada yang lain, 'Bukankah Rabb kalian telah mencegah kalian membunuh seorang tanpa perintahnya?' lalau merek membawanya kepada Dajjal. Manakala laki-laki Mukmin itu melihatnya ia berkata, 'Wahai sekalian manusia, inilah Dajjal yang disebutkan Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam.' Lalu Dajjal memerintahkan agara ia dihadapkan, maka ia ditelentangkan seraya berkata, 'Tangkap dan lukai dia.' Maka punggung dan perutnya dipukul dan Dajjal berkata,' Tidakkah kamu beriman kepadaku?' Dia berkata, 'Sesungguhnya engkau adalah al-Masih sang pendusta. ' Maka ia dihadapkan dan dibelah dengan gergaji mulai bagian tengah kepala hinnga sampai selangkangannya. Kemudian Dajjal berjalan di antra dua belahan tubuhnya dan berkata, 'Bangkitlah!' Maka ia bangkit lurus berdiri tegak, lalu Dajjal berkata, 'Apakah kamu beriman kepadakuaaaaa?' Dia berkata, 'Tidak ada yang bertambah kepadaku tentangmu melainkan keyakinan (akan kebatilanmu.' Kemudia ia berkta, 'Wahai sekalian manusia, sungguh ia tidak akan mampu melakukannya terhadap seorang manusia pun setelahku." Lalu Dajjal memeganggna unyuk menyembelihnya dan meletakkan besi di antara leher dari tulang selangkangannya, namun ia tidak mampu melakukan.Lantas ia memegang kedua tangan kakinya, lalu melemparkannya. Manusia menyangka ia di lempar ke neraka, padahal sejatinya ia dilemparkan ke dalam surga'. "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Laki-laki ini adalah manusia syahid paling agung di sisi Rabb semesta alam."  (Shahih:Diriwayatkan oleh MUslim,no.2938.)

MANUSIA SYAHID PALING AGUNG 
DI SISI RABB SEMESTA ALAM

Dalam riwayat Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu'anhu,

"Dajjal keluar, lalu seorang laki-laki dari kalangan orang Mukmin pergi kepadanya. Lantas ia dicegat oleh sekelompok pasukan yaitui pasukan Dajjal. Mereka berkata, 'Hendak kemana kamu?' Dia berkata, 'Saya hendak menuju orang ini yang telah keluar. 'Mereka berkata, 'Tidakkah kamu beriman kepada tuhan kita? 'Ia menjwab, 'Tuhan kita tidaklah samar.' Mereka berkata, 'Bunuh dia!' Sebagian mereka berkata kepada yang lain, 'Bukankah tuhan kalian telah mencegah kalian membunuh seseorang tanpa perintahnya?' Lalu mereka membawanya kepada Dajjal. Manakala laki-laki Mukmin itu melihatnya ia berkata, 'Wahai sekalian manusia, inilah Dajjal yang disebutkan Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam.' Lalau Dajjal berkata, 'Tangkap dan lukai dia.' Maka punggung dan perutnya dipukuli dan Dajjal berkata 'Tidakkah kamu beriman kepadaku?' Dia berkata, 'Engkau adalah al-Masih sang pendusta.' Maka ia dihadapkan dan dibelah dengan geregaji mulai bagian tengah kepala hingga sampai selangkangannya. Kemudian Dajjal berjalan di antara dua belahan tubuhnya serata berkata, 'Bangkitlah!' Maka ia bangkit lurus berdiri tegak, lalau Dajjal berkata, 'Apakah kamu beriman kepadaku?' Dia berkata, 'Tidak ada yang bertambah padaku tentangmu melainkan keyakinan (akan kebatilanmu).' Kemudian ia berkata, 'Wahai sekalian manusia, sungguh ia tidak akan mampu melakukannya terhadap seorang manusia pun setelahku.' Lalu Dajjal memegangya untuk menyembelinya dan meletakkan besi di antara leher dan tulang selangkangannya, namun Dajjal tidak mampu melakukan. Lantas ia memegang kedua tangan dan kakinya dan melemparkannya. Manusia menyangka ia dilemparkan ke neraka, padahal sejatinya ia dilemparkan ke dalam surga'." Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Laki-laki ini adalah manusia syahid paling agung di sisi Rabb semesta alam."  (Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.2938.

Masih dari Abu Said Radhiyallahu'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

"Dajjal datang sementara ia diharamkan memasuki jalan-jalan Madinah lalu dia singgah di sebagian tanah tandus (padang) dekat luar Madinah. Pada saat itu seorang laki-laki keluar mendatanginya, dia adalah sebaik-baik manusia, atau di antara sebaik-baik manusia seraya berkata, 'Saya bersaksi bahwa engkaulah Dajjal yang telah Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam ceritakan pada kami.' Dajjal berkata, 'Bagaimana menurut kalian jika orang ini kubunuh kemudian kuhidupkan, apakah kalian masih ragu?' mereka mengatakan 'Kami tidak ragu.' Maka ia membunuhnya kemudian menghidupkannya. Maka laki-laki itu berkata, 'Demi Allah, tidaklah sebelumnya aku lebih yakin tentang (kedustaan)mu daripada keyakinanku hari ini.' Kemudia Dajjal hendak membunuhnya, akan tetapi ia tidak mampu."  
(Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari,no.7132; dan Muslim,no.2938.

An-Nawawi Rahimahullah, "Adapun perkataan Dajjal, 'Jika orang ini kubunuh kemudian kuhidupkan, apakah kalian masih ragu?' lalu mereka menjawab, 'Kami tidak ragu' bisa jadi membingungkan. Karena yang ditampakkan Dajjal tidak mengindikasikan kebutuhannya, oleh sebab cacat yang tampak padanya, begitu juga bukti-bukti baru, fisik yang jelek, saksi kedustaan dan kekufuran yang tertera di antara kedua belah matanya, dan lainnya. Namun bisa dijawab 'Barang kali mereka mengatakannya lantaran takut, bukan karena mengakui kebenarannya.' Dan ada kemungkinan mereka memaksudkan 'Kami tidak meragukan kedustaan dan kekufuranmu,' karena barangsiapa ragu terhadap kekufuran dan kedustaannya adalah kafir. Lalu mereka menipunya dengan menggunakan kata-kata yang ambigu lantaran takut. Dan ada kemungkinan orang-orang yang mengatakan, 'Kami tidak ragu' adalah orang-orang yang membenarkan dari kalangan orang-orang Yahudi dan lainnya yang Allah Subahana Wa Ta'ala takdirkan kesengsaraan baginya."
(Syarh Shahih Muslim, karna an-Nawawi, 18/76-77.

Al-'Allamah Ali al-Qari berkata, "Kemudian pada ketidakmampuan Dajjal diakhir kali merupakan bukti nyata bahwa kemampuannya pada saat yang pertama kali adalah baru, tidak tetap dan palsu sebagai ujian bagi selainnya. Lalu kemampuan itu dicabut dari dirinya sebagaimana ruhnya akan direnggut sehingga tinggal sebagai bangkai tergolek di tanah dimakan anjing-anjing."

Al-Kalabadzi berkata, "Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa Dajjal tidak mampu melakukan apa yang diinginkannya, melainkan Allah-lah yang berbuta apa yang Dia kehendaki dalam gerak-gerik dirinya, dan hal tersebut masuk dalam medan kekuasaanNya, sehingga Dajjal mampu melakukannya sebagai bentuk tujuan bagi mahkluk, agar orang yang binasa menjadi binasa dengan keterangan yang nyata, dan agar orang yang hidup menjadi hidup dengan keterangan yang nyata pula, dan Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki serta menunjuki siapa yang dia kehendaki."

KEJADIAN LUAR BIASA KADANG DIMILIKI ORANG, 
BAIK MUKMIN ATAUPUN KAFIR, DAN BUKAN MENJADI DALIL BAHWA DIA ADALAH WALI ALLAH

 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata "Pada kalangan orang-orang musyrik yakni orang-orang musyrik Arab, India, Turki, Yunani, dan lainnya terdapat orang yang memiliki semangat dalam hal ilmu, sisat zuhud, dan ibadah tetapi tidak mengikuti para Rasul, tidak beriman dengan apa yang mereka bawa, tidak membenarkan berita ynag mereka kabarkan, dan tidak taat pada apa yang mereka perintahkan. Mereka itu bukan orang-orang beriman, dan bukan pula wali-wali Allah. Mereka itu ditemani oleh setan dan ia turun kepada mereka. Mereka menampakkan beberapa perkara pada manusia dan mereka memiliki prilaku-prilaku yang tidak lumrah sejenis sihir. Mereka itu berasal dari jenis tukang tenung dan ahli sihir yang setan turun kepadanya. Allah Ta'ala berfirman,

"Apakah akan Aku beritakan kepadaMu kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa. Mereka menghadapkan pendengaran (kepada setan) itu, dan kebanyakan mereka adalalah orang-orang pendusta."  (Asy-Syu'ara': 221-223).

Oleh karena itu, seandainya seseorang terus-terusan berdzikir kepada Allah Subahana Wa Ta'ala siang-malam tiada henti disertai sifaf zuhud, dan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepadaNya, namun tidak mengikuti kitab yang Dia turunkan yaitu al-Qur'an, maka dia termasuk wali setan walaupun ia bisa terbang di udara atau di atas air, kerena pada hakikatnya setanlah yang membawanya terbang ke atas udara. Oleh sebab itu para ulama seperti Abu Yazid al-Basthami dan lainnya mengatakan, 'Andai kata kalian melihat laki-laki terbang di udara atau berjalan di atas air, kalian jangan tertipu dengannya sampai kalian melihat bagaimana sikap dia terhadap perintah dan larangan Tuhannya.'

Asy-Syafi'i Rahimahullah berkata, "Jika kalian melihat pelaku bid'ah telah sepakat bahwa seorang laki-laki apabilah terbang di udara atau berjalan di atas air tidak boleh tertipu dengannya sampai dilihat sejauh mana ittiba'nya kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam serta tunduknya kepada perintah dan larangan beliau, karena sesungguhnya kejadian-kejadian yang luar biasa seperti ini, walaupun kadang pemiliknya adalah seorang wali Allah, tetapi kadang pemiliknya juga adalah seorang musuh Allah.Kejadian-kejadian yang luar biasa ini dimiliki oleh banyak orang kafir, orang musyrik, ahli kitab, dan orang munafik, dan juga dimiliki oleh ahli bid'ah, dan pada hakikatnya kejadian-kejadian itu berasar dari setan. Sehingga tidak boleh diyakini bahwa setiap setiap orang yang memiliki hal-hal seperti ini adalah wali Allah. Akan tetapi wali-wali Allah itu diukur dengan sifat-sifat mereka, perbuatan mereka, dan penrangai-perangai mereka ditunjukkan oleh al-Kitab dan as-Sunnah. Atau mereka dikenal dengan cahaya iman, al-Qur'an, hakikat-hakikat iman yang batin, dan syariat-syariat Islam yang tampak."

Al-Hafizh Ibnu Katzir Rahimahullah berkata, "Sesungguhnya Dajjal, dengannya Allah menguji hamba-hambaNya dengan kejadian-kejadian luar biasa yang Dia ciptakan padanya yang biasa disaksikan pada zamannya. Sebagaimana  yang telah lalu, bahwa barangsiapa menerima ajakannya, ia memerintahkan langit, maka langit pun menurunkan hujan, dan memerintahkan bumi, maka bumi pun menumbuhkan tumbuhan buat mereka, yang dimakan oleh binatang ternak mereka dan oleh mereka sendiri sampai mereka gemuk. Dan barangsiapa tidak menerima ajakannya serta menolaknya, mereka dilanda kekeringan, kemarau, dan buah-buahan. Dan bahwa isi bumi mengiringnya layaknya seeokor ratu lebah; ia dapat membunuh seorang pemuda (sebagaimana dikabarkan dalam hadits) kemudian menghidupkannya kembali. Kesemua ini bukan deongen belaka, melainkan kenyataan yang dengannya Allah menguji hamba-hambaNya pada zaman itu. Maka Dia menyesatkan banyak orang dengannya dan juga menunjuki banyak orang. Orang-orang yang bimbang dalam keimanan mereka menjadi kafir, sementara orang-orang Mukmin menjadi semakin ber-tambah imannya.

Kepada makna ini al-Qadhi Iyadh dan lainnya membawa makna hadits,

"Bahkan hal tersebut lebih ringan bagi Allah daripada yang demikian itu."

Yakni, lebih sepele daripada akan menyesatkan hamba-hambaNya yang Mukmin. Tidaklah yang demikian itu kecuali karena cacat, kekejaman dan kezhalimannya yang tampak nyata walaupun ia memiliku sesuatu yang luar biasa. Di antara kedua matanya tertulis 'kafir' dengan tulisan yang jelas, sebagaimana hal itu disebutkan dalam hadits,

"Tertera antara kedua matanya: ka-fa-ra."

Yang demikian itu menunjukkan bahwa tulisan tersebut hakiki bukan maknawai (majaza) sebagaimana yang dikatakan sebagian orang.

BANI TAMIM ORANG YANG PALING KERAS TERHADAP DAJJAL

 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

 "Senantiata aku mencintai Bani Tamim semenjak aku mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda tiga hal pada mereka, (1) aku mendengar beliau bersabda, 'Mereka adalah umatku yang paling keras terhadap Dajjal'; (2) zakat mereka datang, makasa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, 'Ini adalah zakat kaum kita'; (3) Seorang tawanan wanita dari mereka berada di tangan Aisyah, maka beliau bersabda, 'Bebaskan dia, sesungguhnya dia dari anak Ismail'."

Dan dalam riwayat Muslim,

"Mereka adalah orang-orang yang paling gigih berperang pada peperangan besar."
(Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari,no.4366; dan Muslim,no.2525.)

Dijelaskan oleh Ibnu Hajar, "Keumuman hadits ini dapat dibawa kepada yang khusus sehingga yang dimaksud dengan peperangan-peperangan besar (al-Malahim) adalah peperangan yang paling besar yaitu peperangan melawan Dajjal. Atau sengaja disebutkan Dajjal agar selainnya masuh dengan cara lebih utama."

TEMPAT-TEMPAT YANG DIMASUKI DAJJAL

 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu ia berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

"Dajjal datang dari arah timur hendak memasuki kota Madinah. Hingga sampai di ujung Uhud, malaikat memalingkan wajahnya ke arah Syam, dan di sanalah ia binasa."  
(Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad, 4/338.)

Dari Abu Bakrah, dari Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

"Bahaya al-Masih Dajjal tidak sampai memasuki kota Madinah. Pada saat itu kota Madinah memilihi tujuh pintu di setiap pintu terdapat dua malaikat."  (Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari,no.1879.)

Dari Fatima binti Qais Radhiyallahu'anha, dia berkata,

"Saya mendengar tukang adzan Rasululllah Shallallahu'alaihi wa sallam menyerukan, 'Ash-Shalatu jami'ah'. Maka saya keluar menuju masjid dan shalat bersama Rasululllah Shallallahu'alaihi wa sallam. Tatkala selesai shalat, beliau duduk di atas mimbar sambil tertawa lantas bersabda, 'Hendaklah setiap orang diam di tempat shalatnya!' Kemudian beliau bersabda, 'Tahukah kalian kenapa kalian aku kumpulkan?' Mereka (para sahabat) menjawab, 'Allah dan RasulNya lebih mengetahui.' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya demi Allah, aku tidak mengumpulkan kalian karena adanya sesuatu anjuran, tidak pula karena ada sesuatu yang menakutkan. Tetapi aku mengumpulkan kalian karena Tamin ad-Dari sebelumnya adalah seorang Nasrani lalu datang berbai'at dan menyatakan Islam. Ia menceritakan sebuah cerita yang sama dengan yang pernah aku ceritakan kepada kalian tentang al-Masih Dajjal. Dia bercerita bahwa dia naik kapal laut bersama tiga puluh laki-laki daru suku Lakhm dan Judzan. Mereka dipermainkan oleh gelombang selama satu bulan di tengah lautan sehingga mereka singgah di sebuah pulau sampai tenggelamnya matahari. Mereka duduk di atas sampan-sampan kecil yang sengaja disiagakan di atas kapal. Mereka pun memasuki pulau tersebut dan dijumpai oleh seekor binatang berbulu tebal dan banyak; mereka tidak mengetahui mana bagian depan dan bagian belakangnya lantaran saking banyak bulunya. Mereka berkata, 'Celaka kau! Binatang apa kamu? 'Ia menjawab, 'Aku adalah al-Jassasah (yakni, tukang mata-mata dan pencari berita bagi Dajjal,pent).' Mereka berkata, 'Dan apa itu al-Jassasah?' Ia berkata, 'Wahai kaum! Pergilah ke laki-laki ini di biara, sungguh ia sangat butuh pada berita kalian.' Dia (Tamim ad-Dari) bertutur, 'setelah ia menyebutkan seorang laki-laki pada kami, kami merasa takut terhadap binatang tersebut jangan-jangan ia adalah setan. Kami pun segera beranjak hingga kami memasuki biara, ternyata di sana ada seorang manusia yang paling besar fisiknya dan paling kuat belenggunya; sama sekali kami belum pernah melihat yang sama sepertinya; kedua tangannya diikatkan ke lehernya dan di antara lutut sampai pergelangan kakinya penuh dengan rantai besi. Saya berkata, 'Celaka kau! Siapa kamu?' Ia berkata, 'Kalian telah menemukan beritaku, maka bertakan kepadaku siapa kalian?' Mereka menawab, 'Kami orang-orang Arab. Kami menaiki sebuah kapal laut, kemudian kami behadapan dengan laut ketika bergelombang besar, sehingga kami dipermainkan oleh gelombang selama satu bulan, lalu kami singgah di pulaumu ini. Kami duduk di atas sampan-sampan kecil yang sengaja disiagakan di atas kapal. Kami pun memasuki pulau ini dan diumpai oleh seekor binatang berbulu tebal dan banyak yang tidak diketahui mana bagian depan dan bagian belakangnya lantaran saking banyak bulunya. Kami berkata, 'Celaka kau! Binatang apakah kamu?' Ia menjawab, 'Aku adalah al-Jassasah.' Kami berkata, 'Dan apa itu al-Jassasah?' Ia berkata, 'Wahai kaum! Pergilah ke laki-laki ini di biara, sungguh ia sangat butuh pada berita kalian.' Maka kami pun bergegas mendatangimu dan kami merasa takut jangan-jangan ia adalah setan.' Dajjal lantas bertanya, 'Ceritakan padaku tentang kebun kurma Baisan'. Kami berkata, 'Berita apa yang kamu inginkan?' Ia berkata, 'Aku bertanya kepada kalian tentang pohong-pohongnya, apakah berbuah?' Kami jawab, 'Ya'. Ia berkata, 'Ketahuilah, tidak lama lagi dia tidak akan berbuah.' Ia berkata, 'Ceritakan kepadaku tentang danau ath-Thabariyah.' Kami bertanya, 'Tentang apanya?' Ia berkata, 'Apakah ada airnya?' Kami menjawab, 'Airnya sangat banyak.' Ia berkata, 'Ketahuilah! Tidak lama lagi airnya akan kering.' Ia berkata, 'Ceritakan kepadaku tentang mata air Zughar.' Mereka berkata, 'Tentang apanya?' Ia berkata, 'Apakah di dalam mata air tersebut ada airnya? Dan apakah penduduknya bercocok tanam menggunakan air dari mata air tersebut?' Kami menjawab, 'Ya airnya sangat banyak, dan penduduknya bercocok tanam menggunakan airnya,' Ia berkata, 'Kabarkan kepadaku tentang Nabi al-Ummi (Muhammad), apa yang ia lakukan?' Kami berkata, 'Dia telah keluar dari Makkah dan tinggal di Yastrib (Madinah).' Ia berkata, 'Apakah dia diperangi oleh orang-orang arab?' Kami menjawab, 'Ya'. Ia berkata, 'Bagaimana sikapnya terhadap mereka?' Maka kami bercerita bahwa beliau telah mengusai bangsa-bangsa Arab yang ada di sekitarnya dan mereka patuh kepadanya. Ia berkata, 'Itu atas kemauan mereka?' Kami menjawab, 'Ya'. Ia berkata, 'Ketahuilah! Sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagi mereka agar mereka menaatinya. Sungguh aku kabarkan pada kalian siapa aku, sesungguhnya aku ada al-Masih Dajjal. Tidak lama lagi aku akan diizinkan untuk keluar, maka aku pun akan keluar dan berjalan di permukaan bumi. Aku tidak akan meninggalkan sebuahkan kampung pun kecuali aku singgah padanya dalam jangka empat puluh malam, kecuali Mekkah dan Thaibah (Madinah); karena keduanya terlarang atasku. Pada keduanya (Makkah dan Madinah), setiap kali aku hendak memasuki salah satunya, aku dihadang seorang malaikat dengan pedang terhunus di tangan. Dan sungguh di setiap jalannya terdapat malaikat yang menjaganya.' Fatimah binti Qais berkata, "Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda sambil menekankan tongkat beliau pada mimbar. 'Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah, -yakni Madinah-. Bukankah sudah aku ceritakan pada kalian?' Para sahabat menjawab, 'Ya'. Beliau bersabda, 'Sungguh aku merasa takjub dengan cerita Tamim karena persis dengan apa yang pernah aku ceritakan pada kalian tentang Dajjal dan tentang Madinah dan Makkah. Ketahuilah sesungguhnya ia berada di laut Syam atau Laut Yaman. Tidak, tetapi di sebelah timur, ia di sebelah timur, ia di sebelah timur. Lalu beliau menunjukkan tangannya ke arah timur'."
(Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.2942.)

HAL-HAL YANG BISA MENJAGA DARI FITNAH DAJJAL

1. Beristiadzah (memohon perlindungan) kepada Allah dari Dajjal dan fitnahnya
Telah shahih bahwa Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam berdoa memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah al-Masih Dajjal dalam shalat beliau. Dan hadits-hadits ini telah disebutkan pada pembahasan-pembahasan yang telah lalu.

2. Menghafal sepuluh ayat dari surat al-Kahfi
Dari Abu ad-Darda Radhiyallahu'anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa menghafal sepuluh ayat yang pertama dari surat al-Kahfi, ia terpelihara dari fitnah Dajjal."

Dalam riwayat lain,

"Barangsiapa menghafal sepuluh ayat dari akhir surat al-Kahfi atau dari penutup surat al-Kahfi."  
(Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.809; Abu Dawud,no.4323; at-Tirmidzi,no.2886; dan Ahmad,5/196 dan 6/446).

3. Barangsiapa mendengar Dajjal, hendaklah menjauhinya
Dari Imran bin Husain ia berkata, Rasulullah Shallallahu'alihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa mendengar tentang Dajjal hendaklah menjauh darinya. Demi Allah, sungguh seorang akan mendatangi Dajjal dalam keadaan yakin bahwa dirinya Mukmin, namun akhirnya dia mengikutinya lantaran syubhat-syubhat yang dilontarkannya."  (Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad,4/431 dan 441; dan Abu Dawud,no.4319. Dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Misykah,no.5488.)

4. Berdomisili di Makkah dan Madinah
Dan telah lewat penyebutan hadits-hadits yang datang menjelaskan bahwa al-Masih Dajjal tidak bisa memasuki Makkah dan Madinah.

KISAH IBNU SHAYYAD DAN APAKAH IA DAJJAL?

Dari Abdulullah bin Umar Radhiyallahu'anhu,

"Bahwa Umar bin al-Khattab dan beberapa sahabat pergi bersama Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam mencari Ibnu Shyayad hingga mereka menemukannya sedang bermain bersama ana-anak kecil di sebuah bangunan Bani Maghalah, dan pada saat itu Ibnu Shayyad sudah hampir baligh. Ia tidak sadar hingga Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam menepuk punggungnya. Beliau bersabda, 'Apakah kamu bersaksi bahwa kau adalah utusan Allah?' Maka ia memandangi Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam lalu berkata, 'Saya bersaksi bahwa engkau adalah Rasul untuk orang-orang yang ummi (bangsa arab).' Ibnu Shayyad balik berkata, 'Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?' Maka Nabi menolaknya, seraya bersabda, 'Aku beriman kepada Allah dan rasul-rasulNya.' Kemudian Rasulullah bertanya kembali kepada Ibnu Shayyad, 'Apa yang kamu lihat?' Ia menjawab, 'Saya didatangi oleh orang yang jujur dan orang yang dusta.' Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, 'Kamu telah tercampuri perkara (antara yang benar dan yang dusta).' 'Sesungguhnya aku menyembunyikan sesuatu darimu.' Ia berkata (menebak), 'Ia adalah ad-Duhk.' Maka beliau bersabda, 'Diamlah dalam keadaan hina! Sungguh kamu tidak akan melampaui apa yang dibisikkan setan kepadamu.' Umar berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah engkau mengizinkan aku untuk memenggal lehernya?' Rasulullah bersabda, 'Jika benar ia Dajjal, maka kamu tidak akan mampu membunuhnya, tetapi jika ia bukan Dajjal, maka tidak ada kebaikan bagimu dalam membunuhnya'."

Ibnu Umar melanjutkan, "Setelah itu Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam pergi bersama Ubay bin Ka'ab menuju kebun tempat Ibnu Shayyad berada. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam menutup dirinya dengan pelepah kurma, berusaha mengelabui Ibnu Shayyad agar bisa mendengar sesuatu darinya sebelum ia melihatnya. Sementara Ibnu Shayyad sedang tidur di atas kasurnya dengan mengenakan kain miliknya; dari dalam kainnya terdengar suara yang samar. Ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam yang sedang menutup dirinya dengan pelepah kurma. Ia berkata, 'Hai Shafi! -nama Ibnu Shayyad- Muhammad ada di sini.' Maka Ibnu Shayyad bangkit dan menghindar, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, 'Seandainya ia membiarkannya (dan tidak mengabarkan kedatangan kita) niscaya akan jelas perkaranya'."
Abdullah bin Umar berkata, "Rasulullah berdiri berpidato di hadapan para sahabat; beliau menghaturkan pujian kepada Allah dengan pujian yang Dia-lah yang berhak atasnya. Kemudian beliau menyebut perihal perihal Dajjal seraya bersabda, 'Sesungguhnya aku memperingatkan kalian dari Dajjal. Dan tidak seorang Nabi pun diutus kecuali dia memperingatkan kaumnya dari Dajjal, dan Nabi Nuh pun telah memperingatkan kaumnya. Akan tetapi aku akan mengatakan pada kalian sesuatu yang belum pernah disampaikan oleh seorang Nabi pun kepada kaumnya. Ketahuilah! Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah, sedangkan Allah tidaklah buta sebelah'."
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari,no.6173.)

Dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu'anhu, dia berkata,

"Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar menjumpai Ibnu Syayyad di salah satu jalan kota Madinah. Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda kepadanya, 'Apa engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?' Namun ia justru balik berkata, 'Apakah engkau bersaksi bahwa akau adalah utusan Allah?' Maka Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, 'Aku beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, dan para rasuluNya. Apa yang kamu lihat?' Ia menjawab, 'Saya melihat sebuah arasy di atas air.' Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, '(Sebenarnya) kamu melihat arasy iblis di atas laut. Dan apa yang kamu lihat?' Ia menjawab, 'Saya melihat dua orang dan satu orang yang jujur dan satu orang yang dusta atau dua orang yang dusta dan satu orang yang jujur.' Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, 'Telah disamarkan (antara yang haq dan yang dusta) padanya, maka tinggalkan dia'." 
(Diriwayatkan oleh Muslim,no.2926; dan Muslim,no.2247.)

Juga dari Abu Sa'id al-Khudri,

"Bahwa Ibnu Shayyad bertanya kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam tentang tanah surga, maka beliau bersabda, "Putih lembut seharum misik murni."  (Diriwayatkan oleh Muslim,no.2928.)

Dari Nafi' dia berkata, "Ibnu umar Radhiyallahu'anhu berjumpa dengan Ibnu Shayyad di salah satu jalan kota Madinah dan berkata kepadanya dengan perkataan yang membuatnya marah sehingga ia mengembang sampai memenuhi jalan. Kemudian Ibnu Umar menemui Hafsah sedangkan dia telah mendengar berita Ibnu Umar tersebut, maka dia berkata kepadanya, 'Semoga Allah merahmatimu. Apa yang kamu inginkan dari Ibnu Shayyad? Tidakkah kamu tahu bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam pernah bersabda,

"Sesungguhnya Dajjal akan keluar karena sesuatu amarah'."  (Telah ditakhrij sebelumnya.)

Dari Abu Sa'id  al-Khudri Radhiyallahu'anhu, dia berkata, "Aku pernah bersama Ibnu Shayyad dalam perjalan menuju Makkah dan ia berkata padaku, "Tidaklah saya berjumpa dengan manusia kecuali mereka menyangka aku adalah Dajjal.Bukankah kamu telah mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam besabda, 'Sesungguhnya Dajjal tidak memiliki anak,' sementara aku seorang Muslim. Bukankah beliau telah bersabda, 'Dajjal tidak bisa memasuki madinah dan Makkah,' sementara saya baru datang dari Madinah dan hendak menuju Makkah.' Kemudian di akhir perkataanya ia berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya saya mengetahui kelahirannya, tempatnya, di mana ia berada, dan saya mengetahui siapa bapak dan ibunya'." Abu Said bertutur, "(Ucapannya ini) menjadikanku bingung. Saya katakan padanya, kecelakaan dan kerugian bagimu pada sisa hari-harimu."
(Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim,no.2927; dan at-Tirmidzi,no.2246.)

Dari Muhammad bin al-Munkadir dia berkata, "Saya melihat Jabir bin Abdulullah bersumpah dengan nama Allah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal. Saya bertanya, 'Apakah kamu kamu bersumpah dengan nama Allah?' Dia menjawab, 'Saya mendengar Umar bersumpah atas hal itu di sisi Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dan Nabi tidak mengingkarinya."  (Shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari,no.7355; dan Muslim,no.2929.)

Dan Nafi' dia berkata, "Ibnu Umar Radhiyallahu'anhu berkata, 'Demi Allah, saya tidak ragu bahwa al-Masih Dajjal adalah Ibnu Shayyad."  (Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud,no.4330.)

Dan dari Jabir Radhiyallahu'anhu ia berkata, "Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada peristiwa al-Harrah."
(Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud,no.4332. Dan yang dimaksud dengan Yaum al-Harrah adalah hari pada saat pasukan Yazid bin Muawiyah di bawah pimpinan Muslim bin Uqbah al-Murri memerangi kota Madinah di al-Harrah, pent.)

PERKATAAN PARA ULAMA TENTANG IBNU SHAYYAD

 Disebutkan dalam Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi, 18/53052.

Mereka (para ulama) berkata bahwa kisah Ibnu Shayyad membingungkan dan pekaranya samar apa ia adalah al-Masih Dajjal atau bukan? Tetapi tidak ada keraguan bahwa ia adalah salah satu Dajjal (pendusta). Sesuai zahir hadits-hadits yang ada, beliau Shallallahu'alaihi wa sallam tidak pernah diberikan wahyu bahwa Ibnu Shayyad adalah al-Masih Dajjal atau bukan, melainkan beliau diberikan wahyu berupa sifat-sifat Dajjal, dan pada Ibnu Shayyad terdapat indikasi-indikasi yang memiliki kemungkinan. Oleh karena Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam tidak memastikan bahwa ia adalah Dajjal atau bukan, sebab itu beliau berkata kepada Umar, "Seandainya ia adalah Dajjal, maka kamu tidak akan mampu membunuhnya." Adapun bantahan Ibnu Shayyad berikan bahwa Dajjal adalah kafir sementara ia Muslim; bahwa DAjjal tidak memiliki anak sementara ia memiliki anak; bahwa Dajjal tidak bisa memasuki Makkah dan Madinah sementara ia memasuki Madinah dan (kala itu) sedang menuju Makkah, maka tidak bisa menjadi alasan. Karena yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam adalah sifat-sifatnya ketika masa fitnahnya dan ketika ia muncul di bumi (sebagai Dajjal).

Al-Khaththabi berkata, "Orang-orang salaf berbeda pendapat dalam masalah Ibnu Shayyad setelah ia dewasa. Diriwayatkan bahwa ia bertaubat dari perkataanya itu dari perkataanya itu (yakni pengakuannya sebagai Nabi di depan Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam), dan bahwa ia meninggal di Madinah. Manakala mereka hendak menyalatkannya mereka membuka wajahnya sampai orang-orang dapat melihatnya, dikatakan pada mereka, 'Saksikanlah.'

Ibnu Umar dan Jabir pernah bersumpah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, mereka berdua tidak ragu. Dikatakan pada Jabir, "Sesungguhnya ia masuk Islam." Dia berkata, "Walaupun ia masuk Islam." Dan dikatakan padanya, "Sesungguhnya ia pernah masuk ke Makkah dan tinggal di Madinah." Ia berkata, "Walaupun ia memasukinya."

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih dari Jabir, dia berkata, "Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada peristiwa al-Harrah." Riwayat ini membatalkan riwayat orang yang meriwayatkan bahwa ia meninggal di Madinah dan dishalatkan. Di dalam hadits-hadits ini Muslim meriwayatkan bahwa Jabir bersumpah dengan nama Allah bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan bahwa ia pernah mendengar Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu'anhu bersumpah atas hal itu di sisi Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dan beliau tidak mengingkarinya.

Al-Khaththab juga berkata, "Adapun perihal Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam mengujinya dengan menyembunyikan ayat ad-Dukhan, karena telah sampai kepada beliau Shallallahu'alaihi wa sallam berita bahwa ia melakukan tenung dan mengaku mengatahui ghaib. Maka beliau mengujinya untuk memberitahukan hakikatnya dan menampakkan kedustaannya kepada para sahabat. Bahwa sesungguhnya ia adalah tukang tenung dan penyihir; setan datang kepadanya lalu ia mengabarkan seperti apa yang dikabarkan oleh setan kepada para tukang tenung. Beliau mengujinya (setelah ia salah dalam menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam sebagai ujian baginya), kemudian beliau bersabda, "Diamlah dalam keadaan terhina! Kami tidak akan melampaui kemampuanmu." Yakni dia tidak akan melampaui kemampuannya dan kemampuan tukang-tukang tenung seperinya yang menghafal sebuah kata yang didiktekan oleh setan yang dibubuhi banyak kebohongan. Berbeda halnya dengan para Nabi, sesunggunya mereka diberikan wahyu oleh Allah Subahana Wa Ta'ala berupa ilmu ghaib sehingga apa yang mereka beritakan jelas, terang dan sempurna. Dan juga apa yang diilhamkan Allah kepada para waliNya berupa karamah.

Al-Baihaqi berkata dalam kitabnya al-Ba'tsu an-Nusyur,
"Para ulama berbeda pendapat dalam perkara Ibnu Shayyad dengan perselisihan yang banyak: Apakah ia Dajjal atau bukan"


Ulama yang mengatakan bahwa ia bukan Dajjal berhujjah dengan hadits Tamim ad-Dari dalam kisah al-Jassasah, dan boleh saja sifat Ibnu Shayyad sama dengan sifat Dajjal, sebagaimana di dalam hadits yang shahih bahwa orang yang paling mirip dengan Dajjal adalah Abdul Uzza bin Qathan, namun ia bukan Dajjal.

Dia berkata, "Pekara Ibnu Shayyad adalah fitnah yang dengannya Allah menguji hamba-hambaNya. Maka Allah Ta'ala memelihara kaum Muslimin dari fitnahnya dan menjaga mereka dari keburukannya."

Saya berkata, Tidak terdapat dalam hadits Jabir yang lebih sekedar sikap diam Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam terhadap perkataan Umar. Sehingga ada kemungkinan bahwa beliau Shallallahu'alaihi wa sallam pertama kali tidak menentukan sikap, lalu datang padanya penjelasan bahwa ia bukan Dajjal, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits Tamim ad-Dari.

Ini perkataan al-Baihaqi dan dia memilih bahwa Ibnu Shayyad bukan Dajjal. Dan telah kami (an-Nawawi) sebutkan dimuka bahwa telah shahih riwayat Umar, Ibnu Umar dan Jabir bahwa ia adalah Dajjal.

Jika dikatakan, kenapa Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam tidak membunuhnya padahal ia mengaku sebagai Nabi di hadapan beliau?
Maka dijawab dari dua sisi, kedua-duanya disebutkan oleh al-Baihaqi dan lainnya.

Pertama, bahwa dia belum baligh. Jawaban ini dipilih oleh al-Qadhi Iyadh Rahimahullah.
Kedua, bahwa waktu itu beliau sedang dalam perjanjian dengan Yaudi serta sekutu-sekutu mereka. Jawaban kedua ini dipilih oleh al-Khaththabi, ia berkata, "Karena setelah sampai di kota Madinah, Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam meneken perjanjian damai antara beliau dan orang-orang Yahudi, agar mereka dibiarkan tetap di atas keadaan mereka. Dan Ibnu Shayyad termasuk dari mereka atau masuk ke dalam mereka."  (Lihat Syarh Shahih Muslim, karya an-Nawawi,18/254-255.)

Sebagian peniliti berkata, Taujih (arahan) hadits-hadits yang datang berkaitan dengan Ibnu Shayyad dengan perbedaan dan kontradiksi yang ada padanyam adalah bahwa Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam pertama kali menyangkanya sebagai Dajjal sebelum beliau menemukan berita pasti tentang Dajjal. Manakala beliau Shallallahu'alaihi wa sallam dikabarkan kisa Dajjal dalam hadits Tamim ad-Dari, dan hal itu bersesuaian denga apa yang beliau ketahui, maka menjadi jelaslah bagi beliau Shallallahu'alaihi wa sallam bahwa Ibnu Shayyad bukanlah seperti yang disangkanya. Hal ini dikuatkan dengan adanya pengingkaran Ibnu Shayyad ketika ia disertai oleh Abu Sa'id al-Khudri dalam perjalanannya ke Makkah. Adapun kesamaan sifat pada kedua orang tua Dajjal dan kedua orang tua Ibnu Shayyad tidak bisa dijadikan sebagai pegangan untuk menyimpulkan sebuah kata. Karena kesamaan sifat tidak mengharuskan kesamaan orang yang disifati. Begitu juga sumpah Umar dan anaknya (Ibnu Umar) serta sikap Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam yang tidak mengingkarinya ketia menya-takan bahwa ia adalah Dajjal. Kesemua ini sebelum perkaranya jelas, sementara pada dirinya terdapat sebagian ciri-ciri Dajjal sehingga melahirkan rasa khawatir pada diri Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam.

APA YANG LEBIH BERBAHAYA DARIPADA DAJJAL?

1. Syirik Khafi (riya')
Dari Abhu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu'anhu, dia berkata,

"Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam keluar menemui kami sementara kami sedang berbincang-bincang tentang Dajjal. Beliau bersabda, 'Mauka aku karbarkan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku takutkan terhadap kalian daripada Dajjal?' Kami (para sahabat) menjawab, 'Tentu, kami mau.' Beliau bersabda, 'Syirik khafi; yaitu seorang berdiri melakukan shalat lalu memperindah shalatnya lantaran mengeetahui ada yang melihatnya'."  (Hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Majah,no. 4204; dan Abu Nu'aim dalam al-Hilyah,6/77. Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami',no.2607.)

2. Imam-imam Kesesatan
Dari Abu Dzar Radhiyallahu'anu ia berkata, Saya mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

"Selain Dajjal (ada yang) lebih ditakutkan terhadap umatku dari pada Dajjal. Yaitu imam-imam yang menyesatkan."   
(Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami',no.4165.)


MISTERI AKHIR ZAMAN
Berlajut..
"TURUNNYA ISA 'ALAIHISSALAM"


Penulis: Shalahuddin Mahmud
Judul Asli: Al-Masih ad-Dajjal wa Ya'juj wa Ma'juj
Penerbit: Darul Ghad ak-Jadid
Al-Manshurah Mesir
Telp/Faks.002.050.2254224
Edisi Indonesia: MISTERI AKHIR ZAMAN
*Keluarnya Dajjal *Turunnya Isa al-Masih Alaihissalam
*Diutusnya Imam Mahdi *Munculnya Ya'juj wa Ma'juj
Penerjemah: Jamaluddin,LC
Muraja'ah: Tim Pustaka DH
Desain Cover: Gobaqsodor
Penyebar: Abdul Rahman Bin Muis
E-Mail : rahmanmuis@rocketmail.com

Postingan Lama