Senin, 06 Juli 2015

Antara Maksiat dan Musibah


Assalamu'alaikum...
Salah satu yang membedakan cara pandang seseorang mukmin dengan yang lainnya, bahwa cara pandang seorang mukmin akan selalu di kaitkan dengan keimanan-nya kepada Allah Subahana Wa Ta'ala dan Hari Akhir. Bukan semata karena melihat hukum sebab-akibat duniawi yang nampak. Begitu pula terjadinya sebuah musibah. Bukan murni terjadi sebab alam belaka, tapi dosa manusia juga sangat berpengaruh terhadap terjadinya musibah.


Allah Subahana Wa Ta'ala
berfirman :
Dan apa saja musibah yang menimpah kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan  Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. asy-syura: 30)

   Ali bin abi thalib radhiyallahu 'anhu pernah mengatakan,
"Tidaklah musibah itu turun melainkan karena dosa. Karenanya, tidaklah bisa musibah itu hilang malainkan juga dengan taubat." (Al-Jawabul Kafi,hal. 87)

Ibnu Umar berkata, "Rasulullah Sallallahu Alaihi Wassallam pernah mendatangi kami seraya berkata, "Wahai kaum Muhajirin! Ada lima hal yang jika kalian diuji dengannya (namun saya berharap semoga kalian tidak menemuinya). Tidaklah sebuah perbuatan keji nampak di sebuah kaum sehingga meraka melakukannya secara terang-terangan melainkan akan muncul wabah penyakit tha'un yang belum pernah ada sebelumnya. Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan akan tertimpa penceklik dan kesusahan hidup serta zalimnya penguasa. Dan tidaklah mereka menolak membayar zakat, malainkan hujan tidak akan turun. Seandainya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya tidak akan pernah turun hujan. Dan tidak mereka mengingkari perjanjian Allah dan Rasul-Nya melainkan Allah akan jadikan mereka dikuasai oleh musuh sehingga berhasil mengambil sebagian milik mereka, serta tidaklah para pemimpin meninggalkan berhukum dengan kitab Allah serta pilih-pilih apa apa yang di turunkan oleh-Nya, melainkan Allah akan jadikan kehancuran mereka (seban pertikaian) antara mereka sendiri." (HR.Ibnu Majah,al-Bazzar dan al-Baihaqi,sebagaimana dalam ash-Shahihah:106)

  Hal ini pun banyak disampaikan oleh para ulama. Mereka tegaskan bahwa hubungan antara musibah dengan maksiat seorang hamba sangatlah kuat.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah berkata, "Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilanhkan nikmat, dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga di sebabkan oleh dosa." (Al-Jawabul Kafi, hal 7)

  Ibnu rajab al-Hanbali pun mengatakan hal senada, "Tidaklah disandarkan suatu kejelekan (kerusakan) melainkan pada dosa, karena semua musibah itu disebabkan karena dosa." (Latha'if al-Ma'arif,hal 75)

  Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap hamba merenungkan hal ini. Ketahuilah, bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negri ini, itu semua di sebabkan dosa dan maksiat yang telah kita perbuat. Betapa banyak kesyirikan merajalela di mana-mana, dengan bentuk tradisi ngalap berkah, memajang jimat untuk memperlancar bisnis dan karir dan sebagainya. Kaum muslimin juga ternyata tidak bisa lepas dari tradisi yang berbau agama, namun sebenarnya tidak ada tuntunannya sama sekali Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Tidak sedikit juga kaum muslimin yang gemar melakukan dosa besar. Mata kita pun masih bisa melihat masih banyak di sekitar kita yang shalatnya bolong-bolong. Padahal para ulama telah sepakat sebagaimana di katakan oleh Ibnul Qayyim bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa-dosa lainnya. Lebih besar dari dosa zina, berjudi, dan minuman-minuman keras. Begitu juga perzinaan dan perselingkuhan semakin merajalela di akhir zaman ini. Itulah berbagai dan maksiat yang sering diterjang. Itu semua mengakibatkan berbagai nikmat lenyap dan musibah tak kunjung hilang.

  Agar berbagai nikmat lenyap, agar terlepas dari berbagai bencana dan musibah yang tidak kunjung hilang , hendaklah setiap hamba meperbanyak taubat yang nashuh (yang sesungguhnya). Karea, dengan beralih kepada ketaatan dan amal shalih, musibah tersebut pasti hilang dan berbagai nikmat pun akan segera datang.

Akibat perbuatan maksiat   Selain hal di atas, Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya, ad-Da' wa ad-Dawa' juga menyebutkan berbagai dampak dari sebuah kemaksiatan. Di antaranya:

 1.   Tidak mendapatkan ilmu. Sebab ilmu adalah nur (cahaya) yang di berikan Allah Subahana Wa Ta'ala kesebuah hati, sedangkan maksiat itu berfungsi mematikan nyala nur tersebut. Imam Malik pernah berkata kepada muridnya, asy-Syafi'i, "Sungguh, aku telah melihat Allah meletakkan nur dalam hatimu, maka jangan (pernah) engkau matikan dengan kemaksiatan."

 2.   Pelaku maksiat akan mengalami kegersangan jiwa terhadap Rabbnya. Dia akan kehilangan kelezatan ma'iyatullah (merasakan kehadiran Allah Subahana Wa Ta'ala). Padahal nikmat ini tidak bisa di nilai dengan kenikmatan duniawi di satukan tidak akan bisa mengobati kekeringan jiwa seseorang.

 3.   Semua perkaranya semakin susah . Maka dari itu, ia akan selalu mendapati pintu yang tertutup dari segala hal. Kebalikannya, orang yang menjauhi dosa akan selalu menemukan way out dari segala urusannya. Karena siapa saja yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikan segala urusannya mejadi lebih mudah (QS.ath-Thalaq:4)

 4.
   Pendosa akan merasakan kegelapan hati. Ia merasakan seperti saat berjalan pada malam yang kelam. Pertama kali akan tampak secara lahiriah di matanya, lalu mejalar keraut mukanya dan akhirnya akan di ketahui semua orang.

 5.   Kemaksiatan bisa melemahkan badan dan hati seseorang. Maka dari itu, ia tidak memiliki keteguhan hati dan juga terlihat loyo saat kegentingan yang memerlukannya, walau kelihatan tegap badan dan kekar ototnya.

 6.   Kemaksiatan menumbuhkan benih-benih dosa. Sebagian ulama berkomentar, "Termasuk balasan amal buruk (maksiat) adalah amal buruk berikutnya. Sedangkan balasan amal baik (hasanah) ialah amalan baik berikutnya."

 7.   Kemaksiatan membuat lemah keinginan pelakunya. Karena maksiat itu menguatkan keinginan berbuat dosa dan melemahkan keinginan bertaubat.

 8.   Kemaksiatan merupakan salah satu faktor jatuhnya sang pelaku di mata Allah dan masyarakatnya. Karena siapa saja yang di hinakan oleh Allah, maka tidak ada lagi yang bisa memuliakannya. (QS. al-Hajj: 18)


 9.  
Kesialan akan selalu menghatui pelakunya.

10.  Kemaksiatan dapat mewariskan kehinaan. Karena kehormatan dan kemuliaan hanya berada pada naungan ketaatan kepada Allah. Karena siapa saja yang menginginkan kemuliaan, sesungguhnya seluruh kemuliaan itu hanya milik Allah. (QS. Fathir: 10)

11. 
Dosa-dosa juga bisa menyingkirkan nikmat dan medatangkan bencana. Karena termasuk balasan buruk bagi pelakunya adalah menghilangkan kenikmatan yang datang dan memutus aliran nikmat yang akan di terima. Oleh karenanya, seorang hamba akan selalu berada dalam kenikmatan selama ia tidak melanggar dosa, dan tidak akan mendapati malapetaka melaikan karena merejang dosa. (QS. al-Anfal: 53)



12. 
Kemaksiatan mengerdilkan jiwa dan menjadikan hina. Sebaliknya, ketaatan akan membesarkan jiwa dan membersihkannya. Maka dari itu, beruntunglah orang yang senantiasa menyucikan jiwanya dari noda dosa (QS. asy-Syams: 9-10)

13. 
Kemaksiatan merampas nama terpuji dan kemuliaan. Maka ia kehilangan predikat mukmin, pelaku kebaikan, maupun orang yang bertakwa. Sebagai gantinya ia akan mendapatkan predikat pendurhaka, fasik, pezina, pemabuk dan lain-lain.

14.  Kemaksiatan akan memutus hubungan seseorang dengan Rabbnya. Jika hal itu terputus, maka terputuslah aliran kebaikan dan yang ada hanyalah semua faktor keburukan.

15.  Kemaksiatan menghapuskan keberkahan-keberkahan, baik keberkahan umur, rezeki, ilmu, pekerjaan, dan ketaatan. Secara keseluruhan akan menghilangkan keberkahan agama dan dunia.

16.  Kemaksiatan akan menarik mahluk lain untuk lebih berani (menyerang) kepada pelakunya. Maka dari itu, setan menjadi lebih berani menimpahkan penyakit, kesesatan, waswas, kesedihan dan kesusahan. Demikian pula manusia yang jahat dan hewan lian terhadap pelakunya.

17. Kemaksiatan itu menghianati pelakunya dalam hal yang amat di perlukannya. Baik itu dalam medapatkan ilmu,semisal menjadi lebih mementingkan sesuatu yang remeh dari pada yang lebih mulia.

18. Kemaksiatan bisa menjadikan lupa pelakunya terhadap dirinya sendiri. Jika ia melupakannya maka akan menyia-nyiakan, merusak dan menghancurkannya. Itu semua terjadi karena sebelumnya ketika berbuat maksiat ia telah melupakan Allah sehinggah Allah pun membuat ia lupa terhadap dirinya. (QS. al-Hasyr: 19)

19.
Kemaksiatan menjauhkan pelakunya  dari para penolongnya. Maka ia akan lebih dekat kepada setan yang bertaibat menghancurkan.

20. Termasuk efek maksiat menjadikan kehidupan sulit di dunia, dalam kubur dan mendapat siksa pedih di akhirat. (QS. Thaha: 124)

Penutup
   
Wahai para saudara dan saudariku, masih ada waktu untuk bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat, agar kita terhindar dari efek buruknya. Coba perhatikan bersama-sama firman Rabb kita yang mulia
(artinya):

Katakanlah, "Wahai para hamba-Ku yang telah menzalimi dirinya sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang." (QS. az-Zumar: 53)

   Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda :
"Bahwasanya Allah membentangkan kedua tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa di siang hari. Dan membukanya pada siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat dosa pada malam hari."

  Semoga Allah senantiasa menjaga hati dan amal perbuatan kita dari segala yang membuat-Nya murka, dan mendekatkan hati dan amal perbuatan kita dari segala membuat-Nya. Wallahu a'lam.

Minggu, 05 Juli 2015

Musibah Adalah Surat Cinta

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Bismillahi rahmanirrahim...
 
    Pembaca yang dirahmati oleh Allah. Dua hal yang sangat akrab dalam kehidupan kita; nikmat dan musibah. Betapa banyak nikmat yang telah Allah berikankepada kita sehingga terkadang kita sering tidak  bisa merasakan kehadirannya kecuali saat posisinya telah di gantikan oleh musibah. Betapa sering kita lalai terhadap nikmat Allah sehingga Allah menegur kita dengan musibah.

     Seorang yang senantiasa sehat akan sangat sulit mensyukuri kesehatannya kecuali saat ia tergolek lemas lemas ditawan sakit. Demikian juga orang kaya, belum tentu bisa mensyukuri arti harta yang ia pegang kecuali setelah tertimpa kepapaan. Demikian seterusnya.

     Saudara dan saudariku, ibarat musibah bagi seorang mukmin laksana surat cinta yang datang dari Allah Subahana Wa Ta'ala buat hamba terkasih-Nya. Terkadang orang yang dicintai lupa terhadap yang mencintainya karena beberapa hal. Ia baru sadar dan merasa dicintai ketika telah mendapatkan sepucuk surat dari kekasihnya. Demikian pun orang mukmin, saat iman dan cintanya melemah terhadap Allah Subahan Wa Ta'ala maka Allah mengingatkan kehadiran-Nya melalu "surat cinta" tersebut. Supaya hamba yang mukmin tadi tidak belarut-larut dalam keterpurukan cinta dan iman.

     Semoga saat "surat cinta" itu datang, kita semakin bertambah rindu dan semakin dekat dengan Allah Subaha Wa Ta'ala. Bukan malah sebaliknya, semakin menjauh...menjauh... dan menjauh sehingga Allah Subahana Wa Ta'ala pun menjauh. Semoga Allah Subahana Wa Ta'ala merahmati ayah kita, Adam Alaihi Salam dan ibunda Hawa saat mereka kembali berusaha mendekat kepada Allah setelah menganiaya diri mereka dan mendapatkan musibah karenanya.
Keduanya berkata, sebagaimana yang di kisahkan dalam al-Qur'an:

Keduanya berkata, "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS.al-A'raf:23)

Rabu, 04 Februari 2015

[OPINI] 8 Alasan Klasik Kenapa Wanita Enggan Berhijab

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
hari ini saya kembali dengan tulisan saya mengenai hijab lagi nih. semoga berkenan untuk para pembaca yaa…

di Indonesia meskipun penduduknya mayoritas muslim, tapi ternyata masih banyak wanita-wanita muslim yang enggan berhijab. mungkin salah satu penyebabnya karena modernisasi dan globalisasi yang berkembang pesat di tanah air, dimana kebanyakan wanita Indonesia cenderung lebih suka berekspresi sebebas-bebasnya yang melegalkan pertunjukan aurat dan cenderung mengikuti trend berbusana bangsa kafir yang smakin terbuka malah smakin bangga. memang sih gak semua wanita Indonesia seperti itu, masih banyak kok muslimah Indonesia yang patuh dengan perintah Allah. tapi masih banyak juga yang membangkang dengan mengatasnamakan emansipasi wanita. padahal Islam juga mengenal emansipasi wanita. justru ketika munculnya agama Islam, wanita mulai diangkat derajatnya. dulu itu wanita hanya sebagai pemuas nafsu kaum adam, hina, gak punya harta warisan, diperbudak, serta melahirkan bayi wanita merupakan aib. semenjak turunnya wahyu Allah yaitu Al-Qur’anul karim, wanita sangat dimuliakan di dalam kitabullah tersebut bahkan Allah mengabadikan wanita dalam surah An-Nisa yang berarti wanita, itu sudah cukup menjadi bukti bahwa Allah sangat menyayangi kaum wanita. namun sayangnya, tidak banyak wanita yang memahami hal ini. kebanyakan mindset mereka yang belum berhijab adalah suatu hal yang ‘sepele’ jika berpenampilan membuka aurat.
coba deh mikir sedikit, kalo semisal kita mempertontonkan aurat kepada lelaki yang bukan mahram maka peluang terjadinya pelecehan seksual lebih tinggi, kan? apalagi kalo lelakinya itu berakhlak buruk kemudian melucuti kehormatan kita, bukankah pihak wanita yang nantinya akan paling merugi? disinilah justru peran hijab sebagai upaya pencegahan dari tindakan pelecehan seksual. jika saja kita tidak pamer aurat maka lelakipun juga tidak akan tergiur untuk menggoda, iya kan? kalo udah terjadi perkara ya jangan salahin orang lain, mending ngaca dulu pada diri sendiri. pasti ada yang salah pada diri kita hingga memicu perkara tersebut.
kita pake logika aja, waktu zaman nabi Adam Alaihis Salam, manusia sudah mampu berpikir untuk menutup kelamin mereka entah itu dalam bentuk baju atau kain aja. dan sebodoh-bodohnya manusia pun, jika dia mempergunakan otaknya untuk berpikir, pasti akan terbesit rasa malu jika alat kelaminnya terpampang bebas. terus gimana dengan wanita-wanita yang suka pamer aurat? masa pola pikirnya kalah sama manusia zaman dulu? tau gak kalo binatang itu bertindak berdasarkan hawa nafsu tanpa menyertakan akal pikiran? #ehh
Nah, sebagai manusia di zaman modern yang memiliki volume otak yang diatas rata-rata, seharusnya kita juga semakin mengerti bagaimana cara berpakaian yang baik untuk menjaga diri dari hal-hal buruk serta mampu membudayakan rasa malu. cuma satu solusi terampuh dan pastinya solusi ini datangnya dari Allah yaitu BERHIJAB.
gak usah ikut-ikutan style artis yang kamu kagumi karena kecantikannya. mereka itu terlihat cantik dan mulus karena masih ada kulit yang membalut tubuh mereka. coba kalo kulit itu terbakar api neraka akibat tidak menjalankan perintah Allah yang paling utama bagi kaum wanita, bakal masih terlihat cantik dan mulus gak? jadi ukhty, aurat itu bukan barang dagangan yang siap dijajakan ditempat umum. bukankah semakin banyak pasang mata yang bukan mahram melihat aurat kita, maka semakin tertimbun saldo dosa kita? direnungin baik-baik ya ukhti, lebih cepat berhijab akan lebih baik. saya gak bermaksud untuk menghasut, tapi ini semua nantinya akan kembali lagi untuk diri ukhti sendiri :)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya : “Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.” (HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya: “bila kamu tidak malu, lakukanlah apa saja yang kamu inginkan,” ( HR . Bukhari dalam Kitab Ahaditsul Anbiya, hadits nomor 3225 )
berikut ini saya akan memaparkan alasan-alasan klasik yang sering dilontarkan wanita muslim yang suka menunda berhijab :
1. JILBABIN HATINYA DULU
hati itu bukan aurat, gimana caranya hati make jilbab? coba benahi yang kelihatan secara fisik dulu. aurat yang benar-benar terpampang itu kan rambut, dada, paha, kulit tangan dan kaki. tutup dulu yang telihat kasat mata deh! biasanya wanita yang berdalih dengan alasan ini akan kasih pernyataan “Percuma kan berhijab tapi kelakuannya buruk.” kalo niat berhijabnya karena Allah semata insya Allah dengan sendirinya akan memperbaiki kelakuan menjadi lebih baik. yakinlah Allah pasti akan menuntun hambaNya yang mau berusaha untuk menjalankan perintahNya. kalo niat hijabnya cuma karena fashion, disuruh pacar, ikut-ikutan temen, tuntutan sekolah, dan sebagainya jelas akan cenderung melencengkan fungsi dan keutamaan berhijab itu sendiri karena mereka berhijab demi manusia, bukan demi Dzat yang telah menciptakannya.
2. BELUM DAPET HIDAYAH
gak ngerti deh sama wanita yang make alasan ini untuk berkilah, emang gimana caranya kamu tau kalo kamu udah dapet hidayah? lewat mimpi ketemu malaikat jibril gitu? atau nunggu hidayah jatuh dari langit? hadeh -_-”  hidayah itu kita sendiri yang cari! caranya ya dengan kita berusaha untuk semakin mendekatkan diri pada Allah. semakin kamu merasa dekat dengan Allah pasti akan ada suatu daya tarik dan keinginan untuk selalu melaksanakan setiap perintahNya dan menjauhi laranganNya. kalo kita kerjaannya cuma tidur aja tanpa mau mau kerja, apa mungkin ada uang yang turun dari langit? sama halnya seperti hidayah, kalau kita tidak berusaha untuk menggapainya apakah mungkin hidayah akan menghampiri  kita? tau gak kalo yang datengnya langsung dari Allah itu namanya AZAB, bukan hidayah. karena hidayah itu sesungguhnya didapatkan dari usaha manusia itu sendiri yang ingin menjadi pribadi sebaik-baiknya manusia di mata Allah. sedangkan azab yang datang langsung dari Allah itu diterima manusia karena kelalaian manusia itu sendiri atas kemunafikan dari perintah Allah. sebenernya dengan punya niatan ingin berhijab aja itu udah termasuk hidayah dari Allah loh.. tinggal gimana langkah kamu selanjutnya mau langsung berhijab atau malah mau menundanya? inget, sesuatu yang ditunda-tunda itu gak baik. selagi mampu, maka kerjakan! mana tau kalo kita meninggal besok, ya kan?
3. BELUM SIAP
diajak berhijab aja belum siap, kalo diajak masuk surga pasti belum siap juga (#ehh) entah yang pake alasan ini sadar gak kalo perintah berhijab itu datangnya dari Allah? gak ada toleransi alasan “belum siap” karena ini perintah dari Pencipta kita dan kita sebagai hamba wajib untuk menjalankannya! coba kalo malaikat izrail tiba-tiba dateng terus mau nyabut nyawa kita, apakah kita bisa bilang “ya malaikat, saya belum siap mati. nanti aja yah cabut nyawanya..”?  kalo emang udah takdirnya mati hari itu juga ya pasti akan mati, malaikat mana mau peduli kamu siap atau gak, kamu mau atau gak. makanya gak akan ada toleransi kesiapan bagi kamu karena Allah sudah menggariskan kehidupan hambaNya. siap gak siap ya harus siap. sebenernya kesiapan seseorang itu kan bergantung pada dirinya sendiri bukan orang lain. boleh jadi sugesti “belum siap” ini muncul karena terpengaruh oleh bisikan setan. itu sugesti negatif, sebagai seorang muslim harusnya kita tidak boleh terjebak. setan akan melakukan segala cara kan agar bisa menghasut ke jalan yang sesat. pasti nanti akan ada aja yang berdalih, “Daripada nanti dilepas lagi kerudungnya karna belom siap. mending nunggu siap dulu.” sekarang yang jadi pertanyaan apa kamu mau dituntun oleh setan? setan, jin kafir dan iblis itu ahli neraka. mereka bakal kekal disana. jadi jangan mau diperbudak oleh mereka. ayo move up!!
4. TAKUT GAK DAPET JODOH
gak ada data otentik yang mampu membuktikan bahwa wanita berhijab itu susah dapet jodoh. buktinya banyak kakak-kakak hijabers yang udah menikah. gak ada jaminan kalo wanita gak berhijab itu lebih gampang dapet jodoh, buktinya masih banyak artis-artis cantik yang masih single. jadi gak usah paranoid gitu. jodoh itu Tuhan yang ngatur. tugas kita cukup memperbaiki kualitas diri kalo mau jodoh yang baik karena jodoh itu cerminan dari diri kita sendiri. Allahpun sudah memastikan bahwa wanita yang baik hanya untuk pria yang baik pula, dan sebaliknya. silakan baca surat An-nuur ayat 26. zaman skarang pria itu emang suka banget ngeliatin wanita-wanita seksi, itulah naluri mereka sebagai pria. tapi bukan brarti mereka mau menikahi wanita yang seperti itu kan? jika pria sangat senang melihat “sesuatu” yang bukan haknya cukuplah kita tahu sampai dimana kadar imannya. karena pada dasarnya menundukkan pandangan jauh lebih baik. semisal pria harus milih antara wanita salehah atau wanita seksi, kalo pria itu punya iman dan nalar yang cukup, pastilah dia lebih milih wanita salehah. karena dia tau betul kalo wanita salehah akan taat pada suami, akan menghasilkan keturunan yang baik, akan senantiasa mendampinginya menuju jalan yang lurus. nah makanya setelah berhijab kita juga harus memperbaiki akhlak supaya insya Allah bisa menjadi wanita salehah idaman pria baik-baik. oke ukhty?? ;)
5. KERUDUNG DAN JILBAB BIKIN GERAH
belum atau baru mau coba berhijab aja udah ngeluh kepanasan dan kegerahan duluan, coba bandingkan dengan wanita muslim di timur tengah sana yang semuanya berhijab. mereka tinggal di daerah gurun pasir yang suhu udaranya jelas jauh lebih tinggi daripada Indonesia, sangat panas. tapi kok mereka gak ada yang ngeluh kepanasan dan kegerahan ya? masih ada satu tempat yang paling panas selain tempat di bumi ini. jadi ukhti please berhenti jadi wanita yang banyak mengeluh. kita ambil sisi positifnya aja kalo dengan berhijab justru kulit kita terhindar dari sengatan sinar ultra violet yang dapat merusak kulit. kulit kita jadi gak kusam dan tetap terjaga kesehatannya. lagipula Allah menyuruh kita berhijab kan pasti supaya kita terlindungi. jadi mustahil jika hijab itu akan merusak diri kita. Allah gak mungkin memerintahkan suatu hal yang buruk bagi hambaNya. kalo baru mau berhijab aja udah banyak ngeluhnya, itu sama aja kalah sebelum berperang. mending coba dulu dan rasakan sensasinya dijamin deh bakal betah, nyaman dan gak akan ada niatan untuk lepas kerudung. malah kebanyakan kesan setelah berhijab itu seperti ini “Tau gini kenapa gak berhijab dari dulu aja yah?” inget ukhti, neraka itu jauh lebih panas daripada kota Jakarta. saya gak berniat nakut-nakutin loh cuma sekedar mengingatkan aja ;)
6. DILARANG ORANGTUA
Kadang ada aja Ibu yang gak mau anaknya berhijab dulu soalnya takut anaknya susah dapet jodoh lah, dikira fanatik Islam lah, atau takut anaknya mengikuti aliran-aliran tertentu. Status orangtua memang tinggi di dalam ajaran Islam, sudah kewajiban anak untuk mematuhi perintah orangtua SELAMA apa yang diperintahkan mereka sejalan dengan perintah Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak.” (An-Nisa`: 36)
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya .” (Al-Luqman : 15)
semisal kamu udah mengukuhkan niat untuk berhijab tapi gak jadi karena larangan orangtua, mendingan kamu kasih pengertian secara baik-baik kepada orangtuamu. tunjukin aja surat-surat di Al-Qur’an tentang kewajiban berhijab. seinisiatif kamu lah rayu-rayu orangtuamu biar luluh hatinya. sering-sering aja membantu mereka. asal jangan main kasar aja sama orangtua sendiri. dan larangan orangtua jangan dijadikan sebagai penghalang bagi kamu untuk menaati perintah Allah. gak usah takut bakal diomelin, nekad aja pake kerudung. percaya deh orangtua itu sayang banget sama anaknya meskipun anaknya suka gak dengerin omongan mereka, orangtua itu akan tetep sayang bahkan dalam kondisi seburuk apapun anaknya. lambat laun insya Allah orangtua kamu juga pasti akan memaklumi pilihan kamu dan menerima keputusan kamu.
7. SUSAH DAPET PEKERJAAN
pekerjaan yang kamu dapatkan atas izin siapa? rizki yang kamu dapatkan atas izin siapa? masa lebih manut sama boss daripada sama Dzat yang mengizinkan kamu untuk bekerja dan mendapat rizki? alhamdulillah jika pekerjaan kamu membolehkan wanita berhijab. jika tidak, akan ada jalannya dimana pekerjaan kamu menerima hijabmu. memang gak semua pekerjaan, tapi setidaknya masih ada. cari pekerjaan yang direstui Allah. jangan sampai kita diperbudak oleh uang dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan banyak uang demi kesenangan duniawi. ingat, kita gak hidup kekal di bumi ini. antara urusan dunia dan akhiratpun harus seimbang agar kita menjadi orang yang selamat di kemudian hari. maka itu mulailah dari hal yang sederhana dulu, yaitu berhijab. nanti untuk akhlak baik dan tingkat ketebalan iman insya Allah akan mengikuti. ironis memang kalo uang itu bukan segala-galanya tapi segala-galanya memerlukan uang. mindset yang seperti itu tak jarang membuat manusia jadi gelap mata, seolah dia akan mati jika tidak mati-matian mencari uang. janganlah mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa mati. khususnya wanita, sampai banyak yang rela menjual diri, rela harga dirinya terinjak-injak, rela mengorbankan kehormatannya, hanya demi harta yang berlimpah. kemudian ia menjadi lalai dan berani kepada Allah karena merasa telah memiliki segalanya. kita ini para wanita akhir zaman, jangan sampai kita termasuk golongan manusia yang merugi hanya karena tidak berhijab.
8. TAKUT JELEK
hijab itu cantik di mata Allah. tapi kebanyakan wanita yang belum berhijab ini lebih takut keliatan jelek di mata manusia daripada jelek dimata Allah. penampilan fisik yang rupawan adalah bonus, justru yang paling utama dan fital itu keimanan dan bagaimana kita menjaga aurat. banyak wanita yang akan merasa cantik dan lebih percaya diri jika rambutnya yang panjang dan indah itu tergerai kemudian diperhatikan oleh khalayak banyak. bangga gitu dinilai cantik oleh orang-orang? mentang-mentang kalo udah pake krudung gak bakal keliatan lagi keindahan rambutnya trus jadi menunda berhijab deh. mentang-mentang gak mau keliatan jelek jadi gak masalah gitu menyepelekan perintah Allah? yang penting tetep tampil cantik dihadapan orang ya kan? STOP! Hijab bukan soal cantik atau gak cantik. Tapi hijab adalah perintah dari Sang Khaliq Pencipta Alam Semesta ini. Berhijab adalah sebagai bentk ketaatan kita padaNya. kebanyakan kita uda pernah coba berkerudung trus dibilang jelek sama temenmu kemudian kita akan lebih stres kepikiran apa kata orang daripada kepikiran apa kata Allah. kalau kita seperti itu sama saja kita hanya mengedepankan hal duniawi dan mengesampingkan kehidupan kita yang sesungguhnya yang abadi di akhirat. sadarlah wahai ukhty, yang dimaksud dengan cantik adalah kecintaan terhadap Allah, kemuliaan hati, dan keindahan akhak. kecakapan wajah bukanlah suatu tolak ukur bagi Tuhan untuk melihat seberapa cantiknya kamu. jelek penampilan itu sifatnya relatif, tergantung dari siapa yang melihatnya. jika berhijab itu jelek menurut manusia kan bukan berarti jelek juga dimata Allah.
Yup.. sekira itu tadi delapan alasan klasik yang paling favorite digunakan oleh wanita yang belum berhijab untuk menunda hijabnya. sedikit lagi dari saya, hijab itu bukanlah sebuah trend, jadi kamu gak perlu mengikuti gaya berbusana hijabnya artis-artis yang serba glamour itu. dan janganlah sampai terbawa arus ‘hijab gaul’ yang sedang digandrungi oleh kebanyakan remaja dan anak muda sekarang ini. ingat, yang terpenting berhijab menurut ketentuan Allah, bukan menurut para designer ataupun artis favorite. kemudian, kalo semisal uda ada niat berhijab dan sulit untuk langsung syar’i karena kendala finansial atau apalah, coba berhijabnya bertahap aja. itu udah berupa kemajuan yang patut kita hargai kan jika bersegera menindaklanjuti niat berhijab. yang terpenting ikhlas berhijab karena Allah jadi jangan lupa ditingkatkan juga cara berhijabnya ya mungkin akan ada beberapa yang merasa ‘kurang percaya diri’ saat pertama kali berhijab. biasanya suka minder karna diledekin temen-temen yang ngejek kamu kok tiba-tiba berubah jadi agamis. gak usah diambil pusinglah yang kayak gitu. palingan cuma sehari-dua hari doank mereka menjadikan kamu sebagai trending topic didalam percakapan mereka. stay cool aja. justru hal seperti itu dijadikan batu lompatan bagi kamu untuk lebih mendekatkan diri pada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.
setelah membaca tulisan saya ini sekiranya ada yang cepat-cepat berwudhu kemudian langsung berhijab, ya Alhamdulillah. berarti kamu telah menjemput hidayahmu sendiri atas izin Allah melalui tulisan ini. sekiranya ada yang tadinya gak mau berhijab dan jadi punya niat berhijab sekarang. alhamdulillah juga. mesti cepat-cepat tu di realisasikan niatnya, sering-sering aja baca buku atau artikel tentang berhijab biar semakin yakin ^^ dan sekiranya ada yang gak bergeming dan gak ada getaran hati untuk pake kerudung sedikitpun setelah membaca tulisan ini, kemungkinannya hanya ada satu, yang membaca tulisan ini pasti laki-laki, lol :D
kalo ada yang mau repost atau copy-paste tulisan saya silakan aja asalkan jangan lupa cantumkan nama blog saya ya hehe sekian deh dari saya. jika ada salah-salah kata dan kurang berkenan dihati pembaca, sayapun minta maaf. yang salah datangnya dari saya, dan yang benar datangnya dari Allah.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jumat, 30 Januari 2015

4 KRITERIA WANITA DIJAMIN MASUK SURGA MELALUI PINTU MANAPUN



Wahai Wanita, masuklah ke dalam SYURGA melalui pintu manapun yg kau suka
inilah kriterianya :
1. Mentaati Allah dan Rasul Nya
Dengan ketaatannya itulah sebagai aset terbesar baginya untuk meraih ganjaran tertinggi sebagai buah dari ilmu dan iman-nya. Yaitu surga yang pe-nuh dengan kenikmatan, dia kekal didalamnya se-lama-lamanya. Allah Swt. berfirman:
(Hukum-hukum ter-sebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. 

"Barang-siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah me-masukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar" (Qs. An Nisaa’, 4: 13)

Firman Allah lagi:
“Dan barangsiapa yang men-taati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sa-ma dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Qs. An Nisaa’, 4: 69)

Abu Hurairah ra ber-kata, Rasulullah Saw ber-sabda: “Semua ummatku akan masuk surga kecuali yang enggan (tidak mau). Pa-ra sahabat bertanya: Siapa-kah yang enggan itu wahai Rasulullah? 
Beliau men-jawab: Barang siapa yang ta’at kepadaku (mengikuti Sunnahku), dialah yang akan masuk surga, dan barang siapa yang mendurhakaiku, maka dialah yang yang enggan masuk surga.” (HR Bukhari)
Maka demikian pula seorang wanita atau isteri, dia akan masuk surga dengan menaati Allah dan Rasul-Nya dengan se-benar-benarnya.

2. Mentaati Suami 

Ketaatan kepada suaminya merupakan pintu keselamatan baginya untuk meraih kenikmatan yang kekal dan abadi di surga. Rasulullah Saw bersabda:“Jika seorang isteri itu telah 
  • menunaikan shalat lima waktu, dan shaum (puasa) di bulan Ramadhan, dan men-jaga kemaluannya dari yang haram serta taat kepada suaminya, maka akan di-persilakan: masuklah ke surga dari pintu mana saja kamu suka.” (HR. Ahmad)
Diriwayatkan dari Ummu Salamah, bahwasa-nya Asma datang kepada Nabi dan berkata: Sesungguhnya aku adalah utusan dari kaum wanita Muslim, semua mereka berkata dan berpendapat sebagaimana aku Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah mengutusmu kepada laki-laki dan wanita, kami telah beriman kepadamu dan mengikutimu, (namun) ka-mi kaum wanita merasa dibatasi dan dibelenggu. Padahal kamilah yang menunggu rumah mereka, tempat menyalurkan nafsu mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, sedang mereka dilebihkan dengan sholat berjamaah, menyaksikan jenazah dan berjihad di jalan Allah.

Dan apabila mereka ke luar berjihad, kamilah yang menjaga harta me-reka dan kamilah yang me-melihara anak-anak me-reka, maka apakah kami tidak mendapatkan bagian pahala mereka wahai Rasulullah? Maka berpalinglah Rasulullah ke-pada para sahabatnya dan bertanya: 
  • Apakah tadi kamu sudah mendengar pertanyaan sebaik itu dari seorang perempuan tentang agamanya?
Mereka menjawab: Ya, Demi Allah wahai Rasulullah, kemu-dian beliau bersabda: Pergilah engkau wahai Asma dan beritahukanlah kepada wanita-wanita yang mengutusmu bahwa layanan baik salah seorang kamu kepada suaminya, meminta keridhaannya dan menuruti kemauannya menyamai (pahala) amal-an laki-laki yang engkau sebutkan tadi. Maka Asma pun pergi sambil bertahlil dan bertakbir karena gembiranya dengan apa yang diucapkan Rasulullah ke-padanya. (Al Istii’aab, Ibnu ‘Abd al Bar)

Dari Ibnu Abbas ra ia berkata, wakil wanita ber-kata: “Wahai Rasulullah, saya wakil dari kaum wanita untuk berjumpa denganmu. Sesungguhnya jihad hanya diwajibkan atas kaum laki-laki saja, sekiranya mereka menang mereka memperoleh pahala dan sekiranya mereka terbunuh, maka mereka senantiasa hidup dan diberi rizki di sisi Rabb mereka. Sedangkan kami golongan wanita menjalankan tugas (berkhidmat) untuk mereka, maka adakah bagian kami dari yang tersebut? Maka Rasulullah menjawab, Sam-paikanlah kepada siapa saja dari kaum wanita yang eng-kau temui, bahwa taat kepada suami dan mengakui hak sua-mi adalah menyamai yang demikian itu, dan amat sedikitlah di antara kamu yang mampu melaksana-kannya.” (HR al Bazzar)

3. Melayani Suami dengan Sepenuh Hati

Sebagian isteri sangat taat kepada suaminya, tapi kurang pandai melayani suami dengan sebaik-baik-nya. Maka jika taat kepada suami dan pandai me-layaninya, hal itu merupa-kan kemuliaan tersendiri yang mengangkat derajat-nya meraih keselamatan di dunia dan akhirat.
Ummu Salamah ra berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Tiap-tiap isteri yang mati diridhai oleh suaminya, maka ia akan masuk surga.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dari Abdullah bin Abi Aufa ia berkata, Mu’adz di-utus ke Yaman atau Syam dan dia melihat orang-orang Nashrani bersujud kepada pembesar-pem-besar dan kepada pendeta-pendetanya. Maka beliau berkata dalam hatinya sesungguhnya Rasulullah lebih layak untuk di-agungkan (daripada me-reka). Maka tatkala ia datang kepada Rasulullah ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku melihat orang-orang Nashrani bersujud kepada pembesar-pembesar dan kepada pendeta-pendetanya, dan aku berkata dalam hatiku sesungguhnya engkaulah yang lebih layak untuk diagungkan (daripada mereka)

Lalu beliau bersabda: Andaikata aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada seseorang, maka sung-guh akan kuperintahkan isteri bersujud kepada suami-nya dan seorang isteri belum dikatakan menunaikan kewajibannya terhadap Allah sehingga menunaikan kewajibannya terhadap suami seluruhnya, sehingga andai-kan (suaminya) memerlukannya sedang sang istri sedang berada diatas Unta (kendaraan), sungguh ia tidak boleh menolaknya. (HR Ahmad)

4. Menjaga Kehormatan Diri 

Ciri keempat inilah yang merupakan kunci dari keshalihan seorang isteri yang berada di bawah pengawasan suaminya yang shalih. Lelaki yang memiliki isteri dengan ka-rakteristik seperti ini ber-arti telah memiliki harta simpanan yang terbaik.

Dari Abu Umamah ra, dari Nabi Saw beliau ber-sabda: “Tidak ada yang paling bermanfaat bagi se-orang (lelaki) Mukmin se-su-dah bertaqwa kepada Allah daripada memiliki isteri yang shalihah, yaitu jika ia di-perintah ia taat, jika ia dipan-dang menye-nangkan hati, dan jika ia digilir ia tetap ber-buat baik, dan jika ia diting-galkan (suaminya) ia tetap menjaga suaminya dalam hal dirinya dan harta suaminya.” (HR Ibnu Majah)

Dari Ibn Abbas ra Rasulullah Saw bersabda: “Ada empat perkara siapa yang memilikinya berarti mendapat kebaikan di dunia dan akhirat, yaitu hati yang bersyukur, lisan yang selalu berzikir, tubuh yang bersabar ketika ditimpa bala bencana (musibah) dan isteri yang ti-dak menjerumuskan suami-nya dan merusakkan harta bendanya.” (HR Thabrani dengan isnad Jayyid).

Wanita paling baik ada-lah wanita (isteri) yang apabila engkau meman-dangnya menggembirakan-mu, apabila engkau menyu-ruhnya dia pun menaati, dan apabila engkau pergi dia juga memelihara dirinya dan menjaga hartamu. (HR Abu Dawud. Derajat hadits oleh al Hakim dinyatakan shahih).

Semoga para akhwat mampu memiliki karakter tersebut sehingga melayak-kannya mendapat pahala yang telah dijanjikan Allah Swt. Mereka menjadi par-tner dalam perjuangan fi sabilillah, dan menjadi pendamping setia dikala suka dan duka bersama suami yang dicintainya.

Wallahualam Bissawab

Diambil dari Beberapa sumber 

"Aku Bukanlah Ustad"
"Bukan Pula Ulama"
"AKu hanyalah Hamba Allah yang tengah berusaha
Menjadi Hamba-NYA yang baik"

Saudariku, Apa yang Menghalangimu untuk Berjilbab?



Saudariku…
Seorang mukmin dengan mukmin lain ibarat cermin. Bukan cermin yang memantulkan bayangan fisik, melainkan cermin yang menjadi refleksi akhlak dan tingkah laku. Kita dapat mengetahui dan melihat kekurangan kita dari saudara seagama kita. Cerminan baik dari saudara kita tentulah baik pula untuk kita ikuti. Sedangkan cerminan buruk dari saudara kita lebih pantas untuk kita tinggalkan dan jadikan pembelajaran untuk saling memperbaiki.

Saudariku…
Tentu engkau sudah mengetahui bahwa Islam mengajarkan kita untuk saling mencintai. Dan salah satu bukti cinta Islam kepada kita –kaum wanita– adalah perintah untuk berjilbab. Namun, kulihat engkau masih belum mengambil “kado istimewa” itu. Kudengar masih banyak alasan yang menginap di rongga-rongga pikiran dan hatimu setiap kali kutanya, “Kenapa jilbabmu masih belum kau pakai?” Padahal sudah banyak waktu kau luangkan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perintah jilbab. Sudah sekian judul buku engkau baca untuk memantapkan hatimu agar segera berjilbab. Juga ribuan surat cinta dari saudarimu yang menginginkan agar jilbabmu itu segera kau kenakan. Lalu kenapa, jilbabmu masih terlipat rapi di dalam lemari dan bukan terjulur untuk menutupi dirimu?
Mengapa Harus Berjilbab?
Mungkin aku harus kembali mengingatkanmu tentang alasan penting kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan perintah jilbab kepada kita –kaum Hawa- dan bukan kepada kaum Adam. Saudariku, jilbab adalah pakaian yang berfungsi untuk menutupi perhiasan dan keindahan dirimu, agar dia tidak dinikmati oleh sembarang orang. Ingatkah engkau ketika engkau membeli pakaian di pertokoan, mula-mula engkau melihatnya, memegangnya, mencobanya, lalu ketika kau jatuh cinta kepadanya, engkau akan meminta kepada pemilik toko untuk memberikanmu pakaian serupa yang masih baru dalam segel. Kenapa demikian? Karena engkau ingin mengenakan pakaian yang baru, bersih dan belum tersentuh oleh tangan-tangan orang lain. Jika demikian sikapmu pada pakaian yang hendak engkau beli, maka bagaimana sikapmu pada dirimu sendiri? Tentu engkau akan lebih memantapkan ‘segel’nya, agar dia tetap ber’nilai jual’ tinggi, bukankah demikian? Saudariku, izinkan aku sedikit mengingatkanmu pada firman Rabb kita ‘Azza wa Jalla berikut ini,
“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.'” (Qs. An-Nuur: 31)
Dan firman-Nya,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)
Saudariku tercinta, Allah tidak semata-mata menurunkan perintah jilbab kepada kita tanpa ada hikmah dibalik semuanya. Allah telah mensyari’atkan jilbab atas kaum wanita, karena Allah Yang Maha Mengetahui menginginkan supaya kaum wanita mendapatkan kemuliaan dan kesucian di segala aspek kehidupan, baik dia adalah seorang anak, seorang ibu, seorang saudari, seorang bibi, atau pun sebagai seorang individu yang menjadi bagian dari masyarakat. Allah menjadikan jilbab sebagai perangkat untuk melindungi kita dari berbagai “virus” ganas yang merajalela di luar sana. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,
“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.” (Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173), Ibnu Khuzaimah (III/95) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 10115), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma)
Saudariku, berjilbab bukan hanya sebuah identitas bagimu untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang muslimah. Tetapi jilbab adalah suatu bentuk ketaatanmu kepada Allah Ta’ala, selain shalat, puasa, dan ibadah lain yang telah engkau kerjakan. Jilbab juga merupakan konsekuensi nyata dari seorang wanita yang menyatakan bahwa dia telah beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, jilbab juga merupakan lambang kehormatan, kesucian, rasa malu, dan kecemburuan. Dan semua itu Allah jadikan baik untukmu. Tidakkah hatimu terketuk dengan kasih sayang Rabb kita yang tiada duanya ini?
“Aku Belum Berjilbab, Karena…”
1. “Hatiku masih belum mantap untuk berjilbab. Jika hatiku sudah mantap, aku akan segera berjilbab. Lagipula aku masih melaksanakan shalat, puasa dan semua perintah wajib kok..”
Wahai saudariku… Sadarkah engkau, siapa yang memerintahmu untuk mengenakan jilbab? Dia-lah Allah, Rabb-mu, Rabb seluruh manusia, Rabb alam semesta. Engkau telah melakukan berbagai perintah Allah yang berpangkal dari iman dan ketaatan, tetapi mengapa engkau beriman kepada sebagian ketetapan-Nya dan ingkar terhadap sebagian yang lain, padahal engkau mengetahui bahwa sumber dari semua perintah itu adalah satu, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Seperti shalat dan amalan lain yang senantiasa engkau kerjakan, maka berjilbab pun adalah satu amalan yang seharusnya juga engkau perhatikan. Allah Ta’ala telah menurunkan perintah hijab kepada setiap wanita mukminah. Maka itu berarti bahwa hanya wanita-wanita yang memiliki iman yang ridha mengerjakan perintah ini. Adakah engkau tidak termasuk ke dalam golongan wanita mukminah?
Ingatlah saudariku, bahwa sesungguhnya keadaanmu yang tidak berjilbab namun masih mengerjakan amalan-amalan lain, adalah seperti orang yang membawa satu kendi penuh dengan kebaikan akan tetapi kendi itu berlubang, karena engkau tidak berjilbab. Janganlah engkau sia-siakan amal shalihmu disebabkan orang-orang yang dengan bebas di setiap tempat memandangi dirimu yang tidak mengenakan jilbab. Silakan engkau bandingkan jumlah lelaki yang bukan mahram yang melihatmu tanpa jilbab setiap hari dengan jumlah pahala yang engkau peroleh, adakah sama banyaknya?
2. “Iman kan letaknya di hati. Dan yang tahu hati seseorang hanya aku dan Allah.”
Duhai saudariku…Tahukah engkau bahwa sahnya iman seseorang itu terwujud dengan tiga hal, yakni meyakini sepenuhnya dengan hati, menyebutnya dengan lisan, dan melakukannya dengan perbuatan?
Seseorang yang beramal hanya sebatas perbuatan dan lisan, tanpa disertai dengan keyakinan penuh dalam hatinya, maka dia termasuk ke dalam golongan orang munafik. Sementara seseorang yang beriman hanya dengan hatinya, tanpa direalisasikan dengan amal perbuatan yang nyata, maka dia termasuk kepada golongan orang fasik. Keduanya bukanlah bagian dari golongan orang mukmin. Karena seorang mukmin tidak hanya meyakini dengan hati, tetapi dia juga merealisasikan apa yang diyakininya melalui lisan dan amal perbuatan. Dan jika engkau telah mengimani perintah jilbab dengan hatimu dan engkau juga telah mengakuinya dengan lisanmu, maka sempurnakanlah keyakinanmu itu dengan bersegera mengamalkan perintah jilbab.
3. “Aku kan masih muda…”
Saudariku tercinta… Engkau berkata bahwa usiamu masih belia sehingga menahanmu dari mengenakan jilbab, dapatkah engkau menjamin bahwa esok masih untuk dirimu? Apakah engkau telah mengetahui jatah hidupmu di dunia, sehingga engkau berkata bahwa engkau masih muda dan masih memiliki waktu yang panjang? Belumkah engkau baca firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya,
“Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, jika kamu sesungguhnya mengetahui.” (Qs. Al-Mu’minuun: 114)
“Pada hari mereka melihat adzab yang diancam kepada mereka, (mereka merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) waktu pelajaran yang cukup.” (Qs. Al-Ahqaaf: 35)
Tidakkah engkau perhatikan tetanggamu atau teman karibmu yang seusia denganmu atau di bawah usiamu telah menemui Malaikat Maut karena perintah Allah ‘Azza wa Jalla? Tidakkah juga engkau perhatikan si fulanah yang kemarin masih baik-baik saja, tiba-tiba menemui ajalnya dan menjadi mayat hari ini? Tidakkah semua itu menjadi peringatan bagimu, bahwa kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sekarat atau pun orang yang lanjut usia? Dan Malaikat Maut tidak akan memberimu penangguhan waktu barang sedetik pun, ketika ajalmu sudah sampai. Setiap hari berlalu sementara akhiratmu bertambah dekat dan dunia bertambah jauh. Bekal apa yang telah engkau siapkan untuk hidup sesudah mati? Ketahuilah saudariku, kematian itu datangnya lebih cepat dari detak jantungmu yang berikutnya. Jadi cepatlah, jangan sampai terlambat…
4. “Jilbab bikin rambutku jadi rontok…”
Sepertinya engkau belum mengetahui fakta terbaru mengenai ‘canggih’nya jilbab. Dr. Muhammad Nidaa berkata dalam Al-Hijaab wa Ta’tsiruuha ‘Ala Shihhah wa Salamatus Sya’ri tentang pengaruh jilbab terhadap kesehatan dan keselamatan rambut,
“Jilbab dapat melindungi rambut. Penelitian dan percobaan telah membuktikan bahwa perubahan cuaca dan cahaya matahari langsung akan menyebabkan hilangnya kecantikan rambut dan pudarnya warna rambut. Sehingga rambut menjadi kasar dan berwarna kusam. Sebagaimana juga udara luar (oksigen) dan hawa tidaklah berperan dalam pertumbuhan rambut. Karena bagian rambut yang terlihat di atas kepala yang dikenal dengan sebutan batang rambut tidak lain adalah sel-sel kornea (yang tidak memiliki kehidupan). Ia akan terus memanjang berbagi sama rata dengan rambut yang ada di dalam kulit. Bagian yang aktif inilah yang menyebabkan rambut bertambah panjang dengan ukuran sekian millimeter setiap hari. Ia mendapatkan suplai makanan dari sel-sel darah dalam kulit.
Dari sana dapat kita katakan bahwa kesehatan rambut bergantung pada kesehatan tubuh secara umum. Bahwa apa saja yang mempengaruhi kesehatan tubuh, berupa sakit atau kekurangan gizi akan menyebabkan lemahnya rambut. Dan dalam kondisi mengenakan jilbab, rambut harus dicuci dengan sabun atau shampo dua atau tiga kali dalam sepekan, menurut kadar lemak pada kulit kepala. Maksudnya apabila kulit kepala berminyak, maka hendaklah mencuci rambut tiga kali dalam sepekan. Jika tidak maka cukup mencucinya dua kali dalam sepekan. Jangan sampai kurang dari kadar ini dalam kondisi apapun. Karena sesudah tiga hari, minyak pada kulit kepala akan berubah menjadi asam dan hal itu akan menyebabkan patahnya batang rambut, dan rambut pun akan rontok.” (Terj. Banaatunaa wal Hijab hal. 66-67)
5. “Kalau aku pakai jilbab, nanti tidak ada laki-laki yang mau menikah denganku. Jadi, aku pakai jilbabnya nanti saja, sesudah menikah.”
Wahai saudariku… Tahukah engkau siapakah lelaki yang datang meminangmu itu, sementara engkau masih belum berjilbab? Dia adalah lelaki dayyuts, yang tidak memiliki perasaan cemburu melihatmu mengobral aurat sembarangan. Bagaimana engkau bisa berpendapat bahwa setelah menikah nanti, suamimu itu akan ridha membiarkanmu mengulur jilbab dan menutup aurat, sementara sebelum pernikahan itu terjadi dia masih santai saja mendapati dirimu tampil dengan pakaian ala kadarnya? Jika benar dia mencintai dirimu, maka seharusnya dia memiliki perasaan cemburu ketika melihat auratmu terbuka barang sejengkal saja. Dia akan menjaga dirimu dari pandangan liar lelaki hidung belang yang berkeliaran di luar sana. Dia akan lebih memilih dirimu yang berjilbab daripada dirimu yang tanpa jilbab. Inilah yang dinamakan pembuktian cinta yang hakiki!
Maka, jika datang seorang lelaki yang meminangmu dan ridha atas keadaanmu yang masih belum berjilbab, waspadalah. Jangan-jangan dia adalah lelaki dayyuts yang menjadi calon penghuni Neraka. Sekarang pikirkanlah olehmu saudariku, kemanakah bahtera rumah tanggamu akan bermuara apabila nahkodanya adalah calon penghuni Neraka?
6. “Pakai jilbab itu ribet dan mengganggu pekerjaan. Bisa-bisa nanti aku dipecat dari pekerjaan.”
Saudariku… Islam tidak pernah membatasi ruang gerak seseorang selama hal tersebut tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah. Akan tetapi, Islam membatasi segala hal yang dapat membahayakan seorang wanita dalam melakukan aktivitasnya baik dari sisi dunia maupun dari sisi akhiratnya. Jilbab yang menjadi salah satu syari’at Islam adalah sebuah penghargaan sekaligus perlindungan bagi kaum wanita, terutama jika dia hendak melakukan aktivitas di luar rumahnya. Maka dengan perginya engkau untuk bekerja di luar rumah tanpa jilbab justru akan mendatangkan petaka yang seharusnya dapat engkau hindari. Alih-alih mempertahankan pekerjaan, engkau malah menggadaikan kehormatan dan harga dirimu demi setumpuk materi.
Tahukah engkau saudariku, siapa yang memberimu rizki? Bukankah Allah -Rabb yang berada di atas ‘Arsy-Nya- yang memerintahkan para malaikat untuk membagikan rizki kepada setiap hamba tanpa ada yang dikurangi barang sedikitpun? Mengapa engkau lebih mengkhawatirkan atasanmu yang juga rizkinya bergantung kepada kemurahan Allah?
Apakah jika engkau lebih memilih untuk tetap tidak berjilbab, maka atasanmu itu akan menjamin dirimu menjadi calon penghuni Surga? Ataukah Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menurunkan perintah ini kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan mengadzabmu akibat kedurhakaanmu itu? Pikirkanlah saudariku… Pikirkanlah hal ini baik-baik!
7. “Jilbab itu bikin gerah, dan aku tidak kuat kepanasan.”
Saudariku… Panas mentari yang engkau rasakan di dalam dunia ini tidak sebanding dengan panasnya Neraka yang akan kau terima kelak, jika engkau masih belum mau untuk berjilbab. Sungguh, dia tidak sebanding. Apakah engkau belum mendengar firman Allah yang berbunyi,
“Katakanlah: ‘(Api) Neraka Jahannam itu lebih sangat panas. Jika mereka mengetahui.'” (Qs. At-Taubah: 81)
Dan sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,
“Sesungguhnya api Neraka Jahannam itu dilebihkan panasnya (dari panas api di bumi sebesar) enam puluh sembilan kali lipat (bagian).” [Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2843) dan Ahmad (no. 8132). Lihat juga Shahih Al-Jaami' (no. 6742), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]
Manakah yang lebih sanggup engkau bersabar darinya, panasnya matahari di bumi ataukah panasnya Neraka di akhirat nanti? Tentu engkau bisa menimbangnya sendiri…
8. “Jilbab itu pilihan. Siapa yang mau pakai jilbab silakan, yang belum mau juga gak apa-apa. Yang penting akhlaknya saja benar.”
Duhai saudariku… Sepertinya engkau belum tahu apa yang dimaksud dengan akhlak mulia itu. Engkau menafikan jilbab dari cakupan akhlak mulia, padahal sudah jelas bahwa jilbab adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak mulia. Jika tidak, maka Allah tidak akan memerintahkan kita untuk berjilbab, karena dia tidak termasuk ke dalam akhlak mulia.
Pikirkanlah olehmu baik-baik, adakah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berakhlak buruk? Atau adakah Allah mengadakan suatu ketentuan yang tidak termasuk dalam kebaikan dan mengandung manfaat yang sangat besar? Jika engkau menjawab tidak ada, maka dengan demikian engkau telah membantah pendapatmu sendiri dan engkau telah setuju bahwa jilbab termasuk ke dalam sekian banyak akhlak mulia yang harus kita koleksi satu persatu. Bukankah demikian?
Ketahuilah olehmu, keputusanmu untuk tidak mengenakan jilbab akan membuat Rabb-mu menjadi cemburu, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya,
“Sesungguhnya Allah itu cemburu dan seorang Mukmin juga cemburu. Adapun cemburunya Allah disebabkan oleh seorang hamba yang mengerjakan perkara yang diharamkan oleh-Nya.” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 4925) dan Muslim (no. 2761)]
9. “Sepertinya Allah belum memberiku hidayah untuk segera berjilbab.”
Saudariku… Hidayah Allah tidak akan datang begitu saja, tanpa engkau melakukan apa-apa. Engkau harus menjalankan sunnatullah, yakni dengan mencari sebab-sebab datangnya hidayah tersebut.
Ketahuilah bahwa hidayah itu terbagi menjadi dua, yaitu hidayatul bayan dan hidayatut taufiq. Hidayatul bayan adalah bimbingan atau petunjuk kepada kebenaran, dan di dalamnya terdapat campur tangan manusia. Adapun hidayatut taufiq adalah sepenuhnya hak Allah. Dia merupakan peneguhan, penjagaan, dan pertolongan yang diberikan Allah kepada hati seseorang agar tetap dalam kebenaran. Dan hidayah ini akan datang setelah hidayatul bayan dilakukan.
Janganlah engkau jual kebahagiaanmu yang abadi dalam Surga kelak dengan dunia yang fana ini. Buanglah jauh-jauh perasaan was-wasmu itu. Tempuhlah usaha itu dengan berjilbab, sementara hatimu terus berdo’a kepada-Nya, “Allahummahdini wa saddidni. Allahumma tsabit qolbi ‘ala dinik (Yaa Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah diriku. Yaa Allah, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
-Bersambung Insya Allah-
Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad
Murojaah: Ust. Aris Munandar hafidzahullah

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda